JAKARTA AFU.ID — Wabah Ebola yang kembali melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) terus menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Penyebaran virus yang cepat bahkan telah meluas hingga melintasi perbatasan negara dan memicu kekhawatiran internasional.
Wakil Direktur Operasi Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders, Alan Gonzalez, mengatakan situasi di lapangan semakin sulit ditangani sejak wabah resmi diumumkan di Provinsi Ituri pada 15 Mei 2026.
Menurut Gonzalez, Sabtu (30/5/2026), laju penyebaran virus Ebola kali ini tergolong luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya. Petugas kesehatan di lapangan disebut kesulitan mengimbangi peningkatan jumlah kasus yang terus bermunculan setiap hari.
Ia menjelaskan, banyak dugaan kasus baru ditemukan setiap hari, tetapi keterbatasan kapasitas pemeriksaan membuat proses diagnosis berjalan lambat. Kondisi tersebut dinilai menghambat upaya penanganan dan pelacakan penyebaran virus.
MSF mendesak peningkatan kapasitas laboratorium dan fasilitas pengujian agar kasus-kasus yang muncul dapat segera dikonfirmasi. Langkah itu dinilai penting untuk mencegah penyebaran wabah yang lebih luas.
Saat ini, wabah Ebola telah menyebar ke tiga provinsi di wilayah timur DRC. Penyakit tersebut juga telah menyeberang ke Uganda yang berbatasan langsung dengan kawasan terdampak.
Otoritas kesehatan Uganda melaporkan sedikitnya sembilan kasus Ebola telah terkonfirmasi di negara itu, termasuk satu korban meninggal dunia. Situasi tersebut mendorong pemerintah Uganda mengambil langkah pencegahan yang lebih ketat.
Sebagai respons terhadap perkembangan wabah, Uganda menutup perbatasannya dengan DRC dan memberlakukan karantina selama 21 hari bagi setiap orang yang datang dari negara tersebut.
Data dari Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) menunjukkan bahwa sejak wabah diumumkan, sedikitnya 1.077 kasus suspek Ebola telah tercatat di DRC. Dari jumlah tersebut, 246 orang dilaporkan meninggal dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena virus diduga telah beredar di tengah masyarakat sebelum berhasil terdeteksi oleh otoritas kesehatan setempat.
WHO juga telah menetapkan wabah Ebola di DRC dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang berpotensi menyebar lintas negara. Penanganan wabah semakin menantang karena wilayah timur DRC masih dilanda konflik bersenjata dan ketidakstabilan keamanan yang menghambat akses layanan kesehatan. (ANT/RAI)