JAKARTA, AFU.ID — Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon meningkat menjadi 3.593 orang sejak 2 Maret 2026. Kementerian Kesehatan Lebanon juga mencatat 10.990 orang lainnya terluka.
Dalam 24 jam terakhir, sebanyak 67 orang tewas dan 257 orang terluka. Angka itu menunjukkan serangan masih terus menambah korban meski sebelumnya telah ada perjanjian gencatan senjata.
Kantor berita Lebanon, NNA, melaporkan seorang jenderal tentara Lebanon dan sopirnya tewas setelah kendaraan mereka diserang di jalan raya di Lebanon selatan.
Serangan itu menambah ketegangan di tengah situasi Lebanon selatan yang belum stabil. Militer Israel masih melancarkan serangan di wilayah tersebut meski otoritas Lebanon berulang kali menyebut tindakan itu melanggar kedaulatan negara.
Otoritas Lebanon menilai serangan Israel menghambat upaya stabilisasi di wilayah selatan. Serangan juga dinilai memperburuk kondisi warga yang sudah terdampak konflik sejak awal Maret.
Konflik di Lebanon telah menimbulkan korban besar dan memperparah krisis kemanusiaan. Selain korban tewas dan terluka, warga sipil juga menghadapi risiko pengungsian, kerusakan infrastruktur, dan terganggunya layanan dasar.
Serangan terbaru terhadap kendaraan militer Lebanon membuat efektivitas gencatan senjata kembali dipertanyakan. Jika serangan terus berlangsung, perjanjian penghentian kekerasan berisiko hanya menjadi kesepakatan di atas kertas.
Peningkatan jumlah korban juga menunjukkan warga sipil tetap menanggung dampak paling besar dari konflik. Tanpa penghentian serangan yang nyata, krisis di Lebanon selatan berpotensi semakin dalam dan menghambat pemulihan wilayah tersebut. (RHU)