WAICO Dorong Kolaborasi AI yang Inklusif
Sementara itu, Xi Jinping selaku Presiden Republik Rakyat Tiongkok menegaskan perkembangan AI harus menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia, bukan sekadar instrumen yang dikuasai oleh satu negara. Untuk mendukung tujuan itu, Tiongkok akan mengembangkan platform AI berbasis open source yang dapat dimanfaatkan secara kolaboratif oleh berbagai negara. Bahkan, juga dapat menjalankan program peningkatan kapasitas bagi jutaan peserta dalam lima tahun mendatang. “Pengembangan AI tidak seharusnya menjadi a solo performance oleh satu negara, melainkan a symphony of global collaboration,” tuturnya.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB), Antonio Guterres menyambut positif pembentukan WAICO sebagai wadah kerja sama internasional untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Keikutsertaan Indonesia dalam organisasi itu juga menjadi bagian dari komitmen memperkuat pembangunan ekonomi berbasis inovasi teknologi, sekaligus menjembatani kesenjangan kemampuan AI di tingkat global.
“Penandatanganan dokumen perjanjian pendirian WAICO adalah tonggak penting bagi kita semua. Melalui wadah ini, Indonesia berkomitmen untuk mengambil peran aktif menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi secara global (bridging the AI divide, red). Kehadiran para perwakilan pemerintah negara sahabat menegaskan bahwa kita memiliki visi yang sama dalam mengelola AI agar lebih aman (safe), terpercaya (trustworthy), dan beretika (ethical),” ujar Menko Airlangga Hartarto.
Bergabungnya Indonesia sebagai anggota pendiri WAICO menempatkan pemerintah pada posisi strategis dalam pembentukan tata kelola AI global sejak tahap awal. Keterlibatan itu pun tak hanya memperluas peluang transfer teknologi dan penguatan kapasitas digital nasional. Akan tetapi, juga memberi ruang bagi Indonesia untuk mendorong regulasi AI yang lebih adil, inklusif, dan berpihak pada kepentingan negara berkembang. (ADR)






























