Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Muhammadiyah mendorong perubahan besar dalam layanan sosial dengan menggeser fokus dari pengelolaan panti asuhan menuju penguatan layanan berbasis komunitas. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab persoalan kesejahteraan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam.
Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mariman Darto, mengatakan Tantangan sosial yang berkembang saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan menjangkau masyarakat secara luas. "MPKS bukan hanya mengurus panti asuhan, tetapi harus hadir sebagai penggerak layanan sosial berbasis komunitas," ujarnya dalam rapat koordinasi wilayah Muhammadiyah tentang transformasi amal usaha bidang sosial di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (14/6/2026).
Mariman menegaskan Muhammadiyah harus mengambil peran lebih besar sebagai penggerak layanan sosial yang hadir langsung di tengah komunitas. Dengan pendekatan tersebut, berbagai persoalan sosial di masyarakat dapat ditangani secara lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Muhammadiyah menggagas pembentukan Pusat Solidaritas Kesejahteraan Masyarakat (PSKM).
Lembaga ini dirancang menjadi model baru pengembangan layanan sosial yang lebih fleksibel dalam merespons kebutuhan masyarakat. Kehadiran PSKM diharapkan dapat memperkuat peran sosial Muhammadiyah yang selama ini banyak bertumpu pada lembaga pengasuhan anak dan panti asuhan. Melalui pendekatan baru tersebut, layanan sosial diharapkan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB Falahuddin menilai transformasi layanan sosial juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pengasuhan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Menurut dia, lembaga pengasuhan anak tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan sosial. LKSA harus mampu menjadi ruang pembinaan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Karena itu, Falahuddin mendorong penyusunan buku pedoman pengasuhan anak yang dapat menjadi acuan bersama bagi seluruh LKSA di NTB. Pedoman tersebut diharapkan mampu memperkuat standar layanan dan kualitas pengasuhan di setiap lembaga.
"Layanan sosial merupakan bagian penting dari misi Muhammadiyah dalam melayani umat, terutama masyarakat miskin dan kelompok rentan," kata Falahuddin. Ia menegaskan semangat pelayanan sosial Muhammadiyah merupakan kelanjutan dari gerakan Penolong Kesengsaraan Oemoem yang terinspirasi dari nilai-nilai Al-Maun dan telah dijalankan sejak awal berdirinya organisasi tersebut. (ANT/RAI)