JAKARTA, AFU.ID – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memastikan akan kembali mencalonkan diri sebagai ketua umum dalam Muktamar ke-35 NU. Keputusan tersebut disampaikan menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Gus Yahya yang dimulai setelah Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021. Gus Yahya mengumumkan rencana pencalonannya di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan alasan ingin kembali memimpin PBNU untuk periode berikutnya. “Saya memang hendak mencalonkan lagi karena pertama saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun, dan saya sekarang lebih mengerti tentang bagaimana menyempurnakan capaian-capaian yang sudah berhasil diperoleh ini,” kata Gus Yahya.
Menurut Gus Yahya, periode pertama kepemimpinannya memberikan pengalaman untuk mengetahui bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki. Sejumlah program yang telah berjalan akan dilanjutkan dan disempurnakan apabila ia kembali terpilih. Ia kemudian menjelaskan sasaran dari penyempurnaan program tersebut. “Bagaimana menyempurnakannya sehingga bisa sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Salah satu capaian yang disampaikan Gus Yahya adalah penerapan manajemen digital dalam pengelolaan organisasi. Digitalisasi tersebut digunakan untuk membantu administrasi dan pengelolaan kepengurusan NU di sejumlah tingkatan. Gus Yahya menyebut penerapan sistem itu tidak hanya berlangsung di tingkat pusat dan wilayah. “Dan ini sudah dinikmati sampai ke tingkat cabang dan sebagian MWC yaitu kepengurusan di tingkat kecamatan,” kata dia. Gus Yahya belum memerinci seluruh agenda yang belum selesai selama periode pertama.
Cak Imin Minta Pemimpin Baru
Dua hari sebelum Gus Yahya mengumumkan rencana pencalonannya, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan PBNU. Cak Imin meminta agar Muktamar ke-35 NU menghasilkan ketua umum baru. Pernyataan tersebut disampaikan di Kemang, Jakarta, Minggu kemarin. “Ya, pemimpin yang baru. Saat ini butuh pemimpin baru yang fresh karena yang lama sudah lima tahun enggak ada perubahan,” kata Cak Imin.
Cak Imin tidak menyebut nama tokoh yang dianggap layak memimpin PBNU untuk periode berikutnya. Ia juga belum mengumumkan calon yang akan didukung dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Ketika ditanya mengenai tokoh pilihannya, Cak Imin hanya memberikan jawaban singkat. “Nanti,” ujarnya. Sikap tersebut melanjutkan kritik yang pernah disampaikan Cak Imin terhadap kepengurusan PBNU pada Juni 2026.
Saat itu, ia menyebut kepemimpinan PBNU mengalami kemunduran dan membutuhkan perubahan manajemen secara menyeluruh. Meski telah meminta adanya pergantian kepemimpinan, Cak Imin belum menjelaskan kriteria calon maupun bentuk perubahan yang diharapkan dalam kepengurusan PBNU mendatang. Sebagai informasi, Muktamar ke-35 NU akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Penetapan waktu dan lokasi muktamar diputuskan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah PBNU pada 7 Juli 2026. Jombang sebelumnya juga menjadi tuan rumah Muktamar NU pada 2015. Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf, mengajak pengurus wilayah, pengurus cabang, dan pesantren di Jawa Timur membantu persiapan forum tersebut. Muktamar merupakan forum tertinggi dalam organisasi NU. Salah satu agenda utamanya adalah memilih Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya. (FAD)