Jakarta, AFU.ID - Haru sekaligus tak tega, ketika melihat sosok Mbah H Musthofa yang berjalan kaki sejauh 40 kilometer dari Asrama Haji menuju kediamannya di Solo. Meski sudah diarahkan petugas agar naik kendaraan, dia kekeh dengan pendiriannya.
Mbah H Musthofa tentu tak muda lagi. Usianya hampir kepala delapan. Tetapi semangat menunaikan nazarnya tak bisa dihentikan. Dia sudah mencuri perhatian saat hendak berangkat haji: mengenakan caping, topi khas petani, yang berlafalkan Allah dan Muhammad.
Caping itu dipakai dari rumahnya menuju Asrama Haji Dohohudan, Jl. Cendrawasih, Donohudan, Kec. Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Caping itu menemaninya berjalan kaki dengan jarak yang sama.
Si Mbah tidak berjalan sendirian. Dia ditemani sang adik, Zuriyah dari asrama haji hingga ke rumahnya. Langkah itu diniatkan sebagai ibadah. Sebelum dipanggil oleh Allah menunaikan haji, dia bernazar akan berjalan kaki saat berangkat dan pulang haji.
Ketua PPIH Embarkasi Solo, H Fitriyanto mengaku telah membujuk Haji Musthofa agar kembali ke asrama dan pulang bersama rombongan mengendarai bus. Namun, dia tetap menolak, dan memili berjalan kaki.
“Kami menghormati keputusan tersebut dengan tetap memastikan proses penyerahan dan pengawasannya berjalan sesuai prosedur,” ujarnya dikutip dari laman Kemenhaj Jateng, Jumat (12/6/2026), seperti dikutip NU Online.
Sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan, PPIH Embarkasi Solo melakukan serah terima kepada petugas daerah yang diwakili petugas dari Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Semarang.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan pemantauan terhadap jamaah tetap berjalan hingga tiba di kediamannya.
Di tengah perjalanan, Mbah H Musthofa mengaku tidak memiliki target waktu tertentu. Ia memilih berjalan sesuai kemampuan sambil memperbanyak zikir.
“Kalau lelah istirahat. Saya jalan sembari membawa istigfar, shalawat, tasbih. Saya biasa jalan kaki, dan nazar ini sudah lama tidak saya bicarakan ke orang lain ataupun keluarga,” tuturnya. (EER)