JAKARTA, AFU.ID — Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan produksi pangan nasional tetap aman menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dari normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Pemerintah mengaku telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga produktivitas pertanian dan mencegah dampak kekeringan terhadap pasokan pangan.
Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman kekeringan.
Menurut dia, upaya tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul tahan cekaman iklim, modernisasi pertanian, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah.
“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” kata Suwandi dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan menyusul prediksi BMKG yang menyebut sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah sentra produksi pangan.
Meski demikian, Kementan menilai situasi tahun ini berbeda dengan 2015 dan 2023 karena tidak terdapat fenomena El Nino kuat yang memicu kekeringan luas dan penurunan produksi pertanian.
“El Nino biasanya menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering, sedangkan La Nina meningkatkan curah hujan dan risiko banjir. Tahun ini kondisinya relatif lebih terkendali sehingga yang diperlukan adalah kesiapsiagaan yang lebih baik,” ujar Suwandi.
Kementan menyebut telah menjalankan berbagai program untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem, mulai dari optimalisasi lahan, cetak sawah baru, pembangunan irigasi perpompaan, rehabilitasi jaringan air, hingga penyediaan benih tahan kekeringan.
Menurut Suwandi, berbagai program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.
Ia menambahkan sektor pertanian menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional lima tahun ke depan. Selain mendukung target swasembada pangan, sektor ini juga menopang program Makan Bergizi Gratis, pengembangan biofuel, dan hilirisasi pertanian.
Periode Juli hingga September diperkirakan menjadi masa paling krusial karena bertepatan dengan puncak musim kemarau di banyak wilayah sentra produksi pangan.
Karena itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sejak awal tahun telah menginstruksikan pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan.
Melalui surat kepada gubernur dan bupati pada 9 Maret 2026, pemerintah daerah diminta memetakan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, melakukan normalisasi saluran air, serta mengoptimalkan embung dan waduk sebagai cadangan air saat kemarau.
“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” kata Suwandi.
Kementan juga terus memperbarui informasi cuaca dan iklim berdasarkan pemantauan BMKG dan satelit NOAA agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi aktual di lapangan.
Selain itu, pemerintah menyiapkan sejumlah varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kekeringan, seperti Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan varietas genjah lainnya.
Suwandi optimistis berbagai langkah yang telah disiapkan pemerintah dapat menjaga produksi pangan nasional tetap stabil selama musim kemarau berlangsung.
Menurut dia, keberhasilan menghadapi musim kemarau membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani agar langkah antisipasi dapat berjalan efektif di lapangan.
“Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” ujarnya.
Dengan berbagai program yang telah dijalankan dan koordinasi yang terus diperkuat, pemerintah berharap target produksi pangan nasional tetap tercapai meski menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering tahun ini. (RHU)