AFU.id

Dokter "Ijab Kabul" Yusuf Nugraha di Cianjur Kembali Viral, Netizen Pertanyakan Kehadiran Pemerintah

Bagikan:

Penulis: Agung Riyadi

Ringkasan Berita

Dr. Yusuf Nugraha, seorang dokter di Cianjur, kembali menarik perhatian publik melalui pendekatan uniknya dalam pelayanan kesehatan di Klinik Harapan Sehat, di mana ia menerapkan sistem "ijab kabul" yang memungkinkan pasien membayar biaya pengobatan sesuai kemampuan mereka, termasuk dengan barang non-tunai. Meskipun aksi mulianya mendapatkan apresiasi dari warganet, banyak netizen juga mempertanyakan kehadiran dan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan layanan kesehatan yang lebih inklusif dan terjangkau, mengingat tingginya biaya kesehatan yang menjadi beban masyarakat. Fenomena ini menyoroti ketidakcukupan sistem kesehatan yang ada dan perlunya dukungan yang lebih kuat dari pemerintah untuk memastikan akses kesehatan bagi semua kalangan.

Dokter "Ijab Kabul" Yusuf Nugraha di Cianjur Kembali Viral, Netizen Pertanyakan Kehadiran Pemerintah
dr. Yusuf Nugraha memperlihatkan "pembayaran" dari pasien berupa makanan dan hasil bumi (dok. instagram dr. yusuf nugraha)

Sentimen Berita

100% sumber condong ke netral

Kiri0%
Netral100%
Tribunnews
CNN Indonesia
Liputan6
Suara
Kumparan
IDN Times
CNBC Indonesia
Detik
Merdeka
Jawa Pos
Pikiran Rakyat
BeritaSatu
TV One News
Media Indonesia
Kanan0%

Kehadiran figur seperti dr. Yusuf seperti menjadi oase di tengah biaya kesehatan yang mahal di Indonesia. Data WHO dan Kementerian Kesehatan mengungkapkan, pengeluaran out-of-pocket di Indonesia berkisar 30%–35% dari total belanja kesehatan nasional. Angka ini masih berada di atas ambang batas rekomendasi WHO (di bawah 20%), yang menunjukkan bahwa risiko finansial masyarakat akibat sakit masih tergolong besar.

Penelitian dari The Lancet dan berbagai studi ekonom kesehatan nasional menunjukkan bahwa biaya kesehatan yang tidak terduga merupakan salah satu faktor utama yang dapat mendorong keluarga kelas menengah ke bawah (near poor) jatuh ke bawah garis kemiskinan (catastrophic health expenditure). Suatu pengeluaran kesehatan dikategorikan sebagai katastropik apabila biaya medis langsung (out-of-pocket) yang dikeluarkan keluarga melebihi 10% hingga 25% dari total pendapatan/konsumsi rumah tangga, atau melebihi 40% dari kapasitas membayar (capacity to pay-yaitu pendapatan setelah dikurangi kebutuhan makanan pokok).

Di Indonesia, penyakit tidak menular (PTM) yang membutuhkan perawatan jangka panjang seperti kanker, gagal ginjal (hemodialisis), stroke, dan jantung merupakan pemicu utama belanja katastropik. Studi mencatat bahwa biaya pengobatan PTM tanpa perlindungan finansial yang utuh meningkatkan risiko kemiskinan hingga 2–3 kali lipat pada rumah tangga kelas menengah bawah.

Meskipun BPJS menanggung tindakan medis dan obat-obatan standar di RS, studi World Bank menemukan bahwa biaya non-medis (seperti ongkos transportasi ke RS rujukan, akomodasi, sewa ambulans desa, serta alat bantu kesehatan tertentu yang tidak dijamin) menyerap porsi out-of-pocket yang sangat signifikan bagi warga daerah/pedesaan.

Karena itu fenomena dr. Yusuf ini mendapat tanggapan positif netizen. "Keren bgt. Masya Allah. Semoga dokter sebaik itu sehat selalu, diberi rezeki melimpah dan berkah. Beneran orang yang tulus menolong sesama manusia ternyata masih ada (mudah2an juga banyak yg kyk beliau)," kata akun @NoerLtf, dikutip Selasa (21/7/2026).

Namun di sisi lain mereka juga mempertanyakan kehadiran pemerintah. "apa yang dilakuin dr. Yusuf ini luar biasa dan emang nunjukin gimana harusnya layanan kesehatan berpihak ke masyarakat kecil tapi juga jadi pengingat bahwa idealnya ini bukan pengecualian, harusnya jadi standar yang didukung sistem, bukan cuma andelan kebaikan satu orang," ujar akun @maminies.

Bahkan ada juga netizen yang secara menohok menuding pemerintah gagal menghadirkan sistem kesehatan yang mampu menjangkau semua kalangan. "Seharusnya Pemerintahnya tu sadar, udah sampe ada klinik yg ditahap begini, saking merosotnya ekonomi, bayarnya pun bahkan sampe pake botol plastik bekas... come on, mau tutup mata sampe kapan itu pejabatnya, apalagi yg kerja dibagian kesehatan, seharusnya puskesmas yg lebihh merangkul warga, karna kalian kan wajah terdepan pemerintah dibidang kesehatan buat rakyat kecil," kata @klepon_prjct

"Kasian dokternya, kasian pasiennya🥺🥺🥺 emg yg buntu itu pemrentahnya, ngurusin kesehatan warga aja ga bener. Gaada yg bener emg si," tegas @ngap4inorepot.

"Niat dokternya mulia banget, Salut sama dokternya, tapi kok bisa sampai warga rela bayar pakai hasil panen buat berobat? BPJS Kesehatan sebenernya kemana selama ini? 🤔Pemerintah harusnya hadir dukung, bukan dibiarin jalan sendiri," ujar @shafinarooms.

MAR

Berita Terkait

Pilihan Redaksi