Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Dokter "Ijab Kabul" Yusuf Nugraha di Cianjur Kembali Viral, Netizen Pertanyakan Kehadiran Pemerintah
Bagikan:
Penulis: Agung Riyadi
Ringkasan Berita
Dr. Yusuf Nugraha, seorang dokter di Cianjur, kembali menarik perhatian publik melalui pendekatan uniknya dalam pelayanan kesehatan di Klinik Harapan Sehat, di mana ia menerapkan sistem "ijab kabul" yang memungkinkan pasien membayar biaya pengobatan sesuai kemampuan mereka, termasuk dengan barang non-tunai. Meskipun aksi mulianya mendapatkan apresiasi dari warganet, banyak netizen juga mempertanyakan kehadiran dan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan layanan kesehatan yang lebih inklusif dan terjangkau, mengingat tingginya biaya kesehatan yang menjadi beban masyarakat. Fenomena ini menyoroti ketidakcukupan sistem kesehatan yang ada dan perlunya dukungan yang lebih kuat dari pemerintah untuk memastikan akses kesehatan bagi semua kalangan.
dr. Yusuf Nugraha memperlihatkan "pembayaran" dari pasien berupa makanan dan hasil bumi (dok. instagram dr. yusuf nugraha)
Sentimen Berita
100% sumber condong ke netral
Kiri0%
Netral100%
Kanan0%
JAKARTA, AFU.ID- Sosok dr. Yusuf Nugraha, dokter asal Cianjur, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan dan hangat diperbincangkan di media sosial. Melalui akun Instagram kliniknya, @klinik.hs, potongan kisah pelayanan kesehatannya yang berlandaskan nilai kemanusiaan menyentuh hati ribuan warganet. Salah satu momen yang paling baru memicu keharuan adalah ketika seorang pasien membayar biaya pengobatan dengan masakan olahan buatannya sendiri.
Bagi dr. Yusuf, pemberian tersebut bukan sekadar hidangan biasa, melainkan bukti nyata indahnya siklus kebaikan yang terus berputar di kliniknya. Melalui sistem unik bertajuk "ijab kabul", ia memastikan tidak ada satu pun warga Cianjur yang harus menahan sakit hanya karena tidak memegang uang tunai.
Di Klinik Harapan Sehat yang berlokasi di Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, proses pengobatan diawali dengan dialog keterbukaan. Sebelum diperiksa, pasien cukup menyampaikan kesanggupan membayar sesuai kemampuan finansial masing-masing.
Variasi "mata uang" yang diterima klinik ini sangat beragam. Mulai dari uang tunai seikhlasnya, dari Rp5.000, Rp20.000, hingga nominal berapa pun yang sanggup diberikan pasien. Jika pasien tak punya uang, dr. Yusuf rela dibayar dengan hasil bumi dan makanan seperti beras, sayur-mayur segar, hasil panen kebun, hingga masakan olahan dapur warga.
Para pasien terkadang juga membayar dr. Yusuf dengan barang rumah tangga yang masih berfungsi baik hingga botol plastik bekas dan kardus. Bagi warga yang benar-benar kurang mampu dan tidak memiliki apa-apa, pelayanan pengobatan tetap diberikan secara cuma-cuma tanpa diskriminasi.
Guna menjaga kelangsungan operasional dan pasokan obat-obatan, dr. Yusuf menerapkan skema subsidi silang. Pasien dari kalangan mampu yang membayar dengan tarif normal secara otomatis ikut menyumbang, di mana keuntungan tersebut dialokasikan kembali untuk membiayai perawatan dan obat-obatan bagi pasien kurang mampu. "Dalam matematika manusia, 10 dikurangi 11 hasilnya minus 1. Tapi dalam matematika Allah, justru bisa menjadi sejuta," ujar dr. Yusuf mengungkapkan filosofi di balik sistem ikhlas tersebut.
Dedikasi mendalam dr. Yusuf terhadap dunia kesehatan warga kecil tidak lahir begitu saja. Tumbuh dalam keluarga yang serba terbatas setelah orang tuanya bercerai, sang ibu harus berjuang sendirian menghidupi Yusuf dan empat saudaranya. Rasa cemas dan takut jika ada anggota keluarga yang sakit tanpa biaya di masa lalu menanamkan cita-citanya sejak usia 10 tahun untuk menjadi seorang dokter penolong sesama.
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran pada 2006, ia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 2008, dr. Yusuf mendirikan Klinik Harapan Sehat di atas lahan bekas rumah masa kecilnya—setelah sebelumnya berhasil membelikan rumah yang lebih layak untuk ibunya.
Perjalanan klinik ini mencatatkan transformasi luar biasa selama 18 tahun beroperasi. Berawal dari bangunan sederhana berukuran hanya 3x4 meter, kini Klinik Harapan Sehat telah berkembang menjadi bangunan gedung dua lantai yang mampu melayani sekitar 250 pasien per hari.
Selain sistem ijab kabul dan penukaran sampah plastik bekas untuk menjaga kebersihan lingkungan, dr. Yusuf juga dikenal kerap meluncurkan program unik lainnya. Pada momen hari besar nasional, ia pernah membebaskan biaya pengobatan bagi pasien yang mampu menghafal Pancasila atau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia juga rutin menggelar bakti sosial, sunatan massal, dan pembagian sembako bagi para lansia serta dhuafa.
Aksi konsisten dr. Yusuf Nugraha dalam mengintegrasikan kepedulian lingkungan dan akses kesehatan inklusif ini telah mendulang berbagai apresiasi nasional hingga internasional, termasuk diliput dalam program CNN Indonesia Heroes hingga media regional Channel NewsAsia. Di balik stetoskopnya, dr. Yusuf terus membuktikan bahwa profesi kedokteran adalah tentang merawat kemanusiaan dan menjaga martabat sesama.
Oase di Tengah Mahalnya Biaya Kesehatan
Kehadiran figur seperti dr. Yusuf seperti menjadi oase di tengah biaya kesehatan yang mahal di Indonesia. Data WHO dan Kementerian Kesehatan mengungkapkan, pengeluaran out-of-pocket di Indonesia berkisar 30%–35% dari total belanja kesehatan nasional. Angka ini masih berada di atas ambang batas rekomendasi WHO (di bawah 20%), yang menunjukkan bahwa risiko finansial masyarakat akibat sakit masih tergolong besar.
Penelitian dari The Lancet dan berbagai studi ekonom kesehatan nasional menunjukkan bahwa biaya kesehatan yang tidak terduga merupakan salah satu faktor utama yang dapat mendorong keluarga kelas menengah ke bawah (near poor) jatuh ke bawah garis kemiskinan (catastrophic health expenditure). Suatu pengeluaran kesehatan dikategorikan sebagai katastropik apabila biaya medis langsung (out-of-pocket) yang dikeluarkan keluarga melebihi 10% hingga 25% dari total pendapatan/konsumsi rumah tangga, atau melebihi 40% dari kapasitas membayar (capacity to pay-yaitu pendapatan setelah dikurangi kebutuhan makanan pokok).
Di Indonesia, penyakit tidak menular (PTM) yang membutuhkan perawatan jangka panjang seperti kanker, gagal ginjal (hemodialisis), stroke, dan jantung merupakan pemicu utama belanja katastropik. Studi mencatat bahwa biaya pengobatan PTM tanpa perlindungan finansial yang utuh meningkatkan risiko kemiskinan hingga 2–3 kali lipat pada rumah tangga kelas menengah bawah.
Meskipun BPJS menanggung tindakan medis dan obat-obatan standar di RS, studi World Bank menemukan bahwa biaya non-medis (seperti ongkos transportasi ke RS rujukan, akomodasi, sewa ambulans desa, serta alat bantu kesehatan tertentu yang tidak dijamin) menyerap porsi out-of-pocket yang sangat signifikan bagi warga daerah/pedesaan.
Karena itu fenomena dr. Yusuf ini mendapat tanggapan positif netizen. "Keren bgt. Masya Allah. Semoga dokter sebaik itu sehat selalu, diberi rezeki melimpah dan berkah. Beneran orang yang tulus menolong sesama manusia ternyata masih ada (mudah2an juga banyak yg kyk beliau)," kata akun @NoerLtf, dikutip Selasa (21/7/2026).
Namun di sisi lain mereka juga mempertanyakan kehadiran pemerintah. "apa yang dilakuin dr. Yusuf ini luar biasa dan emang nunjukin gimana harusnya layanan kesehatan berpihak ke masyarakat kecil tapi juga jadi pengingat bahwa idealnya ini bukan pengecualian, harusnya jadi standar yang didukung sistem, bukan cuma andelan kebaikan satu orang," ujar akun @maminies.
Bahkan ada juga netizen yang secara menohok menuding pemerintah gagal menghadirkan sistem kesehatan yang mampu menjangkau semua kalangan. "Seharusnya Pemerintahnya tu sadar, udah sampe ada klinik yg ditahap begini, saking merosotnya ekonomi, bayarnya pun bahkan sampe pake botol plastik bekas... come on, mau tutup mata sampe kapan itu pejabatnya, apalagi yg kerja dibagian kesehatan, seharusnya puskesmas yg lebihh merangkul warga, karna kalian kan wajah terdepan pemerintah dibidang kesehatan buat rakyat kecil," kata @klepon_prjct
"Kasian dokternya, kasian pasiennya🥺🥺🥺 emg yg buntu itu pemrentahnya, ngurusin kesehatan warga aja ga bener. Gaada yg bener emg si," tegas @ngap4inorepot.
"Niat dokternya mulia banget, Salut sama dokternya, tapi kok bisa sampai warga rela bayar pakai hasil panen buat berobat? BPJS Kesehatan sebenernya kemana selama ini? 🤔Pemerintah harusnya hadir dukung, bukan dibiarin jalan sendiri," ujar @shafinarooms.