JAKARTA, AFU.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan fenomena El Nino di Indonesia diperkirakan akan melampaui kategori kuat dan bertahan hingga awal 2027. El Nino kategori kuat adalah kondisi ketika pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat signifikan sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia dan memicu musim kemarau yang lebih panjang. Dampaknya, risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga cuaca panas ekstrem diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya terus memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas. Berdasarkan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, hasil pemantauan menunjukkan El Nino masih berada pada fase kuat dengan kecenderungan terus menguat. Karena itu, BMKG menerbitkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis yang berlaku pada Dasarian I Agustus 2026.
BMKG membagi tingkat risiko kekeringan menjadi tiga kategori, yakni waspada, siaga, dan awas. Status awas ditetapkan di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan wilayah lain seperti DKI Jakarta, Banten, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua masuk kategori waspada dan siaga sesuai tingkat ancamannya. Kondisi tersebut menjadi sinyal potensi kekeringan mulai meluas seiring menguatnya musim kemarau.
Hingga Dasarian III Juli 2026, BMKG mencatat sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Curah hujan pada Dasarian I Agustus diperkirakan didominasi kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian di sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Situasi ini menyebabkan banyak wilayah mengalami hari tanpa hujan dalam waktu yang cukup lama.
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebanyak 322 titik mengalami hari tanpa hujan selama 21 hingga 30 hari, 1.657 titik selama 31 hingga 60 hari, sedangkan 306 titik telah melewati 60 hari tanpa hujan. Rekor terpanjang terjadi di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang tercatat tidak diguyur hujan selama 90 hari berturut-turut. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara di sejumlah daerah.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau. BMKG juga meminta sektor pertanian, sumber daya air, kehutanan, hingga kesehatan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. "Pemangku kepentingan dan masyarakat luas perlu mewaspadai kondisi ini, sekaligus menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit ISPA, DBD dan malaria, dan ancaman heat stroke akibat cuaca panas ekstrem," tulis BMKG dalam keterangannya. (RAI)