JAKARTA, AFU.ID - Kasus meninggalnya seorang calon manajer koperasi merah putih (KMP) akibat heat stroke (serangan panas). menjadi alarm pengingat adanya bahaya terkait cuaca panas yang diprediksi akan melanda kawasan Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Para pakar iklim mengingatkan, fenomena El Nino, yang diperkirakan akan melanda hingga awal tahun depan, dapat menjadi ancaman bagi keselamatan jiwa.
Laporan terbaru Climate Central bertajuk “Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change” mengungkapkan, jumlah hari panas dan lembap yang berbahaya di Indonesia melonjak drastis dari rata-rata 82 hari pada era 1970-an menjadi 118 hari pada periode 2016-2025. Kondisi ini kian mematikan akibat adanya interaksi mendalam antara krisis iklim global dengan fenomena cuaca El Nino yang melanda Indonesia.
El Nino bertindak sebagai akselerator yang melipatgandakan kenaikan suhu udara di atas ambang batas normal, memperpanjang kekeringan, dan menciptakan iklim kerja yang ekstrem bagi masyarakat. Mengapa kombinasi ini mematikan? Ketika krisis iklim dan El Nino menaikkan suhu bola basah (wet-bulb temperatures) hingga 25 derajat Celcius, kelembapan tinggi membuat keringat manusia tidak dapat menguap dengan sempurna.
"Akibatnya, sistem pendinginan alami tubuh lumpuh total, memicu penumpukan panas internal secara masif yang merusak organ dalam hanya dalam hitungan jam," ujar Direktur Eksekutif Medical Society Consortium on Climate and Health Dr. Lisa Patel, dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi AFU.ID, Jumat (26/6/2026).
Tragedi yang menimpa calon manajer KMP tersebut merupakan bentuk nyata dari heat stroke, yaitu kondisi darurat medis tertinggi saat suhu tubuh melesat hingga di atas 40 derajat Celcius. Selain heat stroke, kombinasi krisis iklim dan El Nino ini mengancam masyarakat dengan berbagai penyakit berbahaya.
Dia antaranya adalah heat exhaustion, yaitu kelelahan panas akut. Penyakit ini ditandai dengan kram, pusing hebat, mual, dan kolaps akibat dehidrasi berat. Kemudian, ada pula krisis kardiovaskular. Suhu panas ekstrem memaksa jantung memompa darah berkali-kali lipat lebih cepat untuk mendinginkan tubuh, memicu stroke dan serangan jantung mendadak.
Cuaca panas juga dapat menimbulkan gagal ginjal akut yang terjadi akibat tubuh kekurangan cairan secara ekstrem dalam waktu lama. Kemudian cuaca panas juga dapat menimbulkan komplikasi pernapasan. Udara panas mengikat polusi lebih kuat, memperburuk kondisi penderita asma dan infeksi saluran pernapasan.
Tekanan Ganda di Kota-Kota Besar Indonesia
Riset Climate Central mencatat 10 kota besar di Indonesia masuk dalam daftar 50 kota di dunia dengan hari panas ekstrem terbanyak. Pekanbaru memimpin dengan 353 hari, diikuti Medan (342 hari), dan Surabaya (313 hari). Sementara wilayah metropolitan Jakarta, Tangerang, dan Tangerang Selatan mencatatkan 210 hari panas ekstrem.
Manager Outreach dan Advokasi CERAH Bondan Andriyanu menegaskan, jatuhnya korban jiwa baru-baru ini—baik pada ajang Jakarta International Marathon (JAKIM) maupun kasus calon manajer KMP—harus menjadi alarm keras yang tidak boleh diabaikan pemerintah maupun pemberi kerja. “Risiko panas ekstrem sudah sangat nyata mengancam keselamatan jiwa, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan atau di lingkungan dengan sirkulasi udara buruk," ujarnya.
Bondan mengatakan, di kota besar seperti Jakarta, pekerja menghadapi tekanan ganda (double blow): paparan panas menyengat sekaligus polusi udara tinggi. Kombinasi mematikan ini menghantam langsung sistem pernapasan dan jantung. "Pengurangan emisi dari bahan bakar fosil dan evaluasi jam kerja luar ruangan sudah sangat mendesak dilakukan demi melindungi nyawa manusia,” tegas Bondan.
Dr. Lisa Patel juga menekankan, data penelitian ini harus membuat dunia medis dan sektor ketenagakerjaan bersiaga. "Kenaikan panas lembap berbahaya ini adalah tanda bahaya. Tenaga medis dan perusahaan harus proaktif mengidentifikasi kelompok paling rentan," jelasnya.
Kelompok-kelompok rentan itu adalah pekerja lapangan, lansia, dan anak-anak. "Ini harus diantisipasi sebelum semakin banyak masyarakat berakhir di Unit Gawat Darurat (UGD)," tegas Lisa Patel.
MAR