Jakarta, AFU.ID — Fenomena El Niño tahun ini yang diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam 75 tahun terakhir telah memicu kepanikan di berbagai belahan dunia. Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) mengumumkan pada 11 Juni bahwa El Niño baru telah dimulai, dengan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan tropis telah melewati ambang batas 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata.
Para ilmuwan memperingatkan potensi kenaikan suhu laut yang dapat melampaui rekor historis, memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia. Berbagai lembaga pemerintah dan pakar iklim menilai peluang terjadinya "Godzilla El Nino", istilah untuk El Niño super kuat dengan anomali suhu laut di atas 2 derajat Celsius — di Indonesia relatif kecil.
FAO PBB pada 9 Juni memperingatkan, penduduk Afrika bagian selatan dan kawasan Sahel menghadapi risiko paling tinggi. Komisi Eropa bahkan memperingatkan potensi bencana kemanusiaan di sejumlah negara Afrika seperti Sudan, Somalia, Sudan Selatan, dan Chad, serta di Ekuador, Venezuela, dan Haiti di kawasan Amerika.
Namun ancaman cuaca panas ekstrem itu disebut tidak berdampak signifikan terhadap Indonesia. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan, menegaskan bahwa isu "Godzilla El Nino" yang ramai dibicarakan perlu diletakkan dalam perspektif yang tepat.
"Memang saat ini sedang berkembang isu tentang akan munculnya El Nino yang dikatakan bukan El Nino biasa, tapi super El Nino, dengan sebutan Godzilla El Nino," ujar Eddy, mengutip Kompas, Jumat (22/5/2026).
Namun probabilitas El Nino 2026 mencapai level super kuat sangat kecil. Sebaliknya, peluang terbesar justru berada pada kategori moderat. "Kesimpulannya, Godzilla El Nino sepertinya tidak bakal muncul di tahun 2026," ujarnya.
Klasifikasi El Nino dibagi dalam beberapa kategori. Nilai 0 hingga 0,5 masuk kategori netral, 0,5 hingga 1 tergolong lemah, 1 hingga 1,5 termasuk moderat, 1,5 hingga 2 tergolong kuat, sedangkan di atas 2 dikategorikan super kuat atau super strong.
Dari berbagai model iklim yang dianalisis, mayoritas masih menunjukkan El Nino 2026 berada di level moderat dengan anomali suhu laut diperkirakan hanya berada di kisaran 1 hingga 1,5.
Samudra Hindia Meredam Dampak
Salah satu faktor penting yang membuat Indonesia relatif aman dari dampak terburuk El Niño adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. Kata Eddy, El Niño ekstrem umumnya akan lebih mudah terbentuk apabila IOD berada dalam fase positif. Pada 1997, misalnya, nilai IOD mencapai 1,8 sehingga memperkuat dampak El Niño yang saat itu juga sangat tinggi.
Namun hasil pemodelan dari sejumlah lembaga meteorologi dunia, termasuk Australia dan Jepang, menunjukkan IOD diperkirakan tetap berada pada fase normal hingga Oktober 2026. "IOD ini enggan meninggalkan fase normal. Jadi dia tidak mendukung lahirnya El Nino Godzilla," ujar Eddy.
Profesor University of Maryland R. Dwi Susanto juga menekankan pentingnya memantau interaksi antara El Niño dan IOD. "Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi," tuturnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Niño 2026 berada pada kategori moderat hingga kuat, bukan super kuat. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di gedung BMKG, Jakarta, Rabu (10/6/2026), menyatakan peluang intensitas El Niño kategori moderat mencapai 98 persen, sedangkan kategori kuat diperkirakan sebesar 62 persen.
"Prediksi El Nino yang terjadi mulai pertengahan tahun 2026 dengan peluang intensitas El Nino pada kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%," jelas Teuku Faisal, Rabu (10/6/2026).
BMKG juga memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik telah mencapai positif 1,0 derajat Celsius.
Meskipun dampak El Niño di Indonesia diperkirakan tidak seekstrem 1997 atau 2015, fenomena ini tetap berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih kering di sejumlah wilayah. Eddy Hermawan mengingatkan daerah yang paling rentan terdampak El Nino adalah wilayah dengan pola hujan monsunal, yakni daerah yang memiliki perbedaan tegas antara musim hujan dan musim kemarau.
Kata dia, kawasan yang pertama diserang biasanya Nusa Tenggara Timur (NTT). Dampak kekeringan kemudian dapat meluas ke Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, sebagian Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi bagian selatan. Sementara beberapa wilayah seperti Papua dan Sumatera bagian utara dinilai cenderung tidak terlalu terdampak.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pada Juli 2026, mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia. Intensitas kemarau diperkirakan semakin meluas pada Agustus dengan menjangkau 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan nasional.
Sebagai langkah antisipatif, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai strategi untuk mengamankan produksi pangan nasional. Sekretaris Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementerian Pertanian, Dhani Gartina, menjelaskan berbagai program telah disiapkan untuk mendukung ketersediaan air.
Di antaranya, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, embung, dam parit, serta pengembangan sumber air alternatif. Untuk tahun 2026, pemerintah menyiapkan distribusi infrastruktur air dalam skala besar, meliputi pembangunan sekitar 15.000 unit irigasi perpompaan, 3.000 unit irigasi perpipaan, serta 3.000 unit bangunan konservasi air yang akan difokuskan pada sentra-sentra produksi padi dan wilayah rawan kekeringan.
Vice President Manajemen Stakeholder PT Pupuk Indonesia (Persero), Susatyo Jati mengatakan, pihaknya memastikan kesiapan pasokan pupuk bersubsidi sesuai alokasi yang telah ditetapkan pemerintah. Pada tahun 2026, alokasi pupuk subsidi untuk sektor pertanian mencapai 9,5 juta ton, terdiri atas 4,45 juta ton pupuk urea, 4,5 juta ton pupuk NPK, 500 ribu ton pupuk ZA, serta pupuk organik.
"Kami terus menjaga kapasitas dan kesehatan pabrik agar mampu memenuhi alokasi yang telah ditetapkan pemerintah," ujar Susatyo. Per 8 Juni 2026, total stok pupuk yang tersedia di seluruh Indonesia mencapai 1,17 juta ton, terdiri atas 836 ribu ton pupuk bersubsidi dan 338 ribu ton pupuk nonsubsidi.
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, merespons peringatan Profesor University of Maryland R. Dwi Susanto dengan menyerukan kewaspadaan, namun bukan kepanikan. Ia mengingatkan semua pihak mengenai memori kelam periode 1997–1998 ketika bencana kekeringan panjang memicu gagal panen massal di berbagai wilayah Indonesia.
"Sinyal El Nino berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air," kata Daniel Johan.
Ia mendorong langkah-langkah konkret seperti pembuatan sumur bor di kantong pertanian rawan kekeringan, pembangunan embung desa, penyesuaian pola tanam berbasis data BMKG, serta penerapan teknologi digital untuk mengelola distribusi air secara efisien.
"Kita punya prakiraan, kita punya teknologi, dibutuhkan hanyalah political will untuk memastikan air hujan tidak mengalir sia-sia ke laut, melainkan tersimpan untuk mengairi sawah di bulan-bulan terkering," ujar Daniel Johan. (EER)