Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Beasiswa Santri Dipersiapkan, Peluang Studi ke Luar Negeri Kian Terbuka
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program beasiswa untuk santri guna memperluas akses pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, dengan fokus pada pembinaan kemampuan bahasa Inggris dan persiapan akademik. Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya dukungan ekosistem untuk meningkatkan daya saing santri dalam memperoleh beasiswa, termasuk kolaborasi dengan berbagai lembaga. Selain itu, terdapat peluang kerjasama pendidikan internasional dengan Pemerintah Maroko yang menawarkan 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia, diharapkan dapat mempermudah akses studi ke perguruan tinggi di negara tersebut.
Menag RI, Nasaruddin Umar menerima audiensi IKA PMII Ciputat dan Tangsel yang salah satunya membahas beasiswa untuk santri. (Foto: Kemenag RI)
JAKARTA, AFU.ID — Beasiswa untuk santri menjadi langkah memperluas akses pendidikan tinggi bagi talenta pesantren hingga perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri. Upaya itu melalui pembinaan sejak dini agar calon penerima mempunyai kesiapan akademik, bahasa asing, dan kemampuan seleksi yang lebih kompetitif. Harapannya, pendekatan itu dapat meningkatkan daya saing santri dalam memperoleh beasiswa pendidikan skala nasional maupun internasional.
Melansir website Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), Minggu (2/8/2026), Menteri Nasaruddin Umar menggagas program persiapan penerima Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bagi santri dan talenta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Gagasan itu tersampaikan ketika menerima audiensi Pengurus Cabang Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Ciputat dan Tangerang Selatan yang memaparkan roadmap pengembangan talenta alumni. Ia menilai, potensi santri untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke kampus terbaik sangat besar apabila mendapat dukungan ekosistem pembinaan yang memadai.
Program pembinaan berfokus kepada peningkatan kemampuan bahasa Inggris, Tes Potensi Akademik (TPA), dan pendampingan yang berkelanjutan. Kemenag RI juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk menyiapkan kurikulum, tenaga pendamping, sampai dengan sarana pelatihan. Nasaruddin Umar berharap, langkah itu dapat meningkatkan persentase tingkat kelulusan santri dalam seleksi beasiswa.
“LPDP sangat dibutuhkan oleh pesantren, jadi kita perlu proaktif membangun keberpihakan. Yang harus disiapkan adalah kemampuan bahasa Inggris, Tes Potensi Akademik (TPA), dan pendampingannya. Bagaimana membuat kemampuan TOEFL mereka meningkat, misalnya dalam enam bulan bisa mencapai target yang dibutuhkan,” ungkap Nasaruddin Umar.
Menteri Agama (Menag) RI juga menegaskan pembinaan tak semestinya terbatasi pada alumni organisasi tertentu, melainkan harus menjangkau talenta terbaik dari kalangan santri. Oleh karenanya, Ia ingin membangun sistem yang mampu memberikan kesempatan setara bagi seluruh calon penerima beasiswa. Yang mana, gagasan itu segera terformulasikan menjadi program yang dapat dikembangkan bersama berbagai mitra, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). “Kalau ekosistemnya dibangun dengan baik, saya yakin peluang lolos LPDP akan semakin besar,” tutur Nasaruddin Umar.
Beasiswa Santri Buka Peluang Studi ke Maroko
Beasiswa untuk santri juga mendapat peluang penguatan melalui kerja sama pendidikan internasional dengan Pemerintah Maroko. Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini menyebut ada sekitar 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia dan membuka kemungkinan penambahan kuota apabila diperlukan. Ia turut membahas perluasan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa Indonesia di berbagai bidang ilmu bersama Menag Nasaruddin Umar.
“Saya kira, ada keinginan dari Kementerian Urusan Islam (Pemerintah Maroko, red) untuk meningkatkan jumlahnya jika memang dibutuhkan. Saya berkomitmen untuk menyampaikan posisi Indonesia terkait masalah ini kepada pihak berwenang dan pemerintah saya. Juga akan menindaklanjutinya dengan mereka,” ujar Redouane Houssaini ketika mengunjungi Kantor Kemenag RI di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menag Nasaruddin Umar lantas menyatakan, Indonesia telah mengirim 30 mahasiswa melalui program visiting student, kendati pelaksanaannya belum dapat berlanjut tahun ini karena sejumlah persyaratan. Kemenag RI mengharapkan akses menuju perguruan tinggi di Maroko dapat dipermudah sehingga semakin banyak mahasiswa Indonesia memperoleh kesempatan belajar di negara tersebut. “Insyaallah, ke depan kita dapat mengirim lebih banyak mahasiswa ke Maroko, bukan hanya untuk studi Islam, tetapi juga teknik dan berbagai ilmu lainnya,” paparnya.
Sementara itu, Pemerintah Maroko menyatakan sedang mengkaji penyederhanaan persyaratan sekaligus kemungkinan mengirim pengajar bahasa Arab ke Indonesia sebagai program persiapan sebelum keberangkatan mahasiswa. Sinergi antara pembinaan talenta di dalam negeri dan perluasan kerja sama pendidikan luar negeri menunjukkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) memerlukan ekosistem yang terintegrasi. Mulai dari pendampingan seleksi hingga terbukanya akses terhadap kampus-kampus berkelas dunia. (ADR)