JAKARTA, AFU.ID - Presiden Republik Indonesia (RI) mengungkapkan kunjungan ke luar negeri yang kerap ia lakukan sebagai bentuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara besar. Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam pidato pembukaan Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Munas HIPMI) di Lampung.
Prabowo menyebut dirinya perlu menghadiri sejumlah undangan pimpinan negara-negara besar karena Indonesia disukai banyak negara. “Indonesia dikenal tidak mau punya musuh,” kata Prabowo dalam kesempatan tersebut, Rabu (10/6/2026).
Dalam hal ini, Prabowo justru kembali bertanya apa alasan dirinya sebagai pemimpin Indonesia harus menolak undangan dari kepala negara besar tersebut. “Karena ada yang sok pintar dari segala-galanya,” ujar Prabowo dalam kesempatan yang sama.
Ia menilai tidak logis jika dirinya tidak hadir memenuhi undangan Trump, sosok yang disebutnya sebagai pemimpin negara adidaya. "Masa saya berani tidak datang? Ha... coba saja," ujarnya. Ia menekankan sebagai pemimpin yang dipilih rakyat, ia memiliki hak untuk menghadiri undangan pemimpin negara luar.
Lebih lanjut, ia memberi penjelasan mengapa kunjungannya ke luar negeri harus mencakup banyak negara sekaligus. Menurutnya, kunjungan maraton ke beberapa negara juga perlu dilakukan karena Indonesia memiliki banyak sahabat. “Masa gue nongol di Washington tapi gue gak nongol di Moskow, ga bisa gitu saudara-saudara,” ujarnya.
Sebagai informasi, Prabowo tercatat menempuh 49 kali kunjungan luar negeri sejak November 2024 hingga Mei 2026. Kunjungan itu menjangkau 28 negara, dengan sejumlah negara didatangi lebih dari sekali.
Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal Melalui video di akun X pribadinya mempertanyakan efisiensi anggaran kunjungan dinas Prabowo tersebut pada Sabtu (30/05/2026).
Dino menyoroti setiap kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang sangat besar, mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, pengamanan, hingga uang harian seluruh delegasi.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya telah angkat bicara dan menegaskan biaya tambahan yang timbul dalam kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto tidak dibebankan kepada negara, melainkan ditanggung secara pribadi oleh Presiden.
Soal rombongan yang dipersoalkan, Teddy menyebut jumlah delegasi era Prabowo sudah berkurang lebih dari separuh dibanding periode sebelumnya, dari lebih dari 120 orang menjadi 50 hingga 60 orang maksimal. (NAD)