Jakarta, AFU.ID – Sebuah video amatir yang merekam aksi pemburuan terhadap kelompok yang disebut “boti” di kawasan Kota Bogor, yaitu di kawasan BTM, Pasar Anyar hingga Terminal Bubulak. Berdasarkan unggahan akun Instagram Bandung Banget, diakses, Jumat (17/7/2026), terlihat sekelompok pemuda berjumlah belasan orang mengejar beberapa pria berpenampilan feminin yang berusaha melarikan diri di sekitar area kos-kosan dan gang sempit. Aksi kejar-kejaran itu disertai teriakan-teriakan keras, ancaman, dan intimidasi yang terlihat jelas, hingga salah satu target sempat terjatuh sebelum berhasil meloloskan diri ke arah pemukiman warga.
Video yang diunggah pada Rabu malam lalu tersebut sudah ditonton puluhan ribu kali hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Dalam rekaman, terlihat para pemuda mengendarai sepeda motor dan berlari sambil membawa spanduk serta atribut bertuliskan “Boti Hunter” dan “Lindas Boti”. Mereka menerobos gang-gang kecil, menyorotkan senter ke arah korban, dan meneriakkan kalimat-kalimat provokatif. Salah satu momen yang paling banyak dikomentari adalah ketika seorang pemuda menarik baju salah satu target sambil mengancam akan membawanya ke polisi atau “membersihkan” wilayah tersebut.
Video viral itu memicu beragam reaksi di kalangan netizen. Banyak yang mendukung aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian pemuda terhadap moral masyarakat, sementara sebagian lain mengkritik metode yang dinilai melampaui batas dan berpotensi melanggar hukum karena mengandung unsur penganiayaan dan intimidasi.
Fenomena “pemburuan boti” ini merebak di tengah maraknya diskusi publik tentang pengaruh kelompok minoritas gender di masyarakat. Banyak warga mengeluhkan keberadaan individu-individu berpenampilan feminin yang kerap berkumpul di area kos-kosan murah dan tempat hiburan malam, yang dianggap mengganggu ketertiban serta memberikan contoh buruk bagi anak muda. Aksi spontan kelompok pemuda ini mencerminkan keresahan tersebut, meski cara pelaksanaannya menuai kontroversi karena dilakukan di luar prosedur hukum resmi.
Di bagian akhir, perlu dicatat bahwa sebelum aksi pemburuan ini mencuat, telah ada seruan luas dari berbagai kalangan masyarakat, tokoh agama, dan komunitas pemuda di Bogor maupun daerah lain untuk memberantas keberadaan “boti”. Seruan itu muncul melalui kampanye media sosial, diskusi publik, hingga konvoi-konvoi bertajuk “Boti Hunter” yang menekankan perlunya menjaga nilai-nilai moral dan budaya lokal. Gerakan ini mendapatkan dukungan signifikan sebagai respons terhadap persepsi bahwa perilaku tersebut semakin terbuka dan memengaruhi generasi muda. Para pendukung seruan ini berargumen bahwa upaya kolektif diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang sehat, meski selalu diingatkan agar tetap dalam koridor hukum yang berlaku.
Sikap netizen beragam. Ada yang mendukung aksi tersebut, namun ada pula yang mengkritisi cara mereka melakukan aksinya yang dinilai main hakim sendiri. Tampak dalam unggahan itu, mereka melakukan pengejaran hingga dilempari botol berisi air kotor. "Gerakan 3B (Bersih Bersih Boti)," tulis salah seorang netizen.
"Meresahkan memang, tapi tetap harus lewat mekanisme yang manusiawi. Karena sama sama punya hak yang sama di mata hukum," komentar seorang pengguna media sosial lainnya. "Tidak di anjurkan pakai kekerasan apa lagi pake aer kencing lebih baik pakai yang humanis." (EER)