JAKARTA, AFU.ID — Ratusan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate mendatangi Mapolrestabes Surabaya untuk menuntut penuntasan kasus pembacokan terhadap dua rekan mereka yang bekerja sebagai petugas valet. Polisi telah menahan satu tersangka, tetapi tiga orang lain yang diduga terlibat masih diburu. Aksi tersebut juga menjadi perlawanan massa terhadap kekerasan dan praktik premanisme yang dikaitkan dengan kelompok penagih utang.
Massa mulai tiba sekitar pukul 14.16 WIB menggunakan sepeda motor, mobil, dan sebuah kendaraan komando. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, membawa bendera PSHT, serta membentangkan spanduk berisi tuntutan penegakan hukum. Barisan massa kemudian berkumpul di depan Mapolrestabes sambil menyanyikan Hymne SH Terate.
“PSHT cinta damai, ini adalah aksi damai, kita buktikan gerakan arus bawah solid dan cinta damai,” kata salah seorang orator, Jumat (31/7/26). Massa menyatakan tidak menginginkan aksi premanisme berkedok debt collector maupun kekerasan anarkis terjadi di Surabaya. Perwakilan peserta menyampaikan tuntutan secara bergantian dari atas mobil komando.
Aksi tersebut dipicu pembacokan terhadap Feri dan Didik, dua petugas valet yang disebut sebagai anggota PSHT di sebuah tempat hiburan kawasan Tegalsari. Konflik bermula ketika sekelompok penagih utang terlibat perselisihan terkait sebuah kendaraan, sebelum pertikaian meluas dan menyeret petugas valet yang berada di lokasi. Kedua korban kemudian mengalami luka setelah diserang menggunakan senjata tajam.
Polisi telah menetapkan pria berinisial SL sebagai tersangka utama setelah ia menyerahkan diri ke Polrestabes Surabaya. SL diduga mengambil parang dari kendaraannya dan menggunakannya untuk membacok korban, lalu membuang senjata tersebut ke Sungai Gunungsari. Penyidik masih memburu tiga orang lain berinisial P, J, dan M yang diduga terlibat dalam penyerangan.
Menjelang demonstrasi, polisi juga menggeledah lokasi yang disebut sebagai markas kelompok Maluku 1 Rasa di Jalan Teuku Umar. Dari tempat tersebut, aparat menemukan dua stik golf, parang, linggis, golok, dan pipa besi yang kemudian diamankan. Polisi menyatakan benda-benda itu akan diproses apabila terbukti digunakan dalam tindak kejahatan.
Sebanyak 1.839 personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan Pemerintah Kota Surabaya disiagakan untuk mengamankan aksi. Jalan di depan Mapolrestabes ditutup sehingga arus kendaraan dari arah utara dialihkan menuju Kembang Jepun. Polisi juga menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah jalan menuju Teuku Umar dan pusat Kota Surabaya.
Surat pemberitahuan awal menyebut aksi dapat diikuti sekitar 10 ribu orang dan berlangsung di markas kelompok debt collector serta Mapolrestabes Surabaya. Namun, jumlah peserta yang telah tiba pada awal aksi masih dilaporkan mencapai ratusan orang. Polisi kini dituntut segera menangkap tiga pelaku lain agar perkara pidana tersebut tidak berkembang menjadi konflik antarkelompok yang lebih luas. (RHU)