JAKARTA, AFU.ID - Dunia pendidikan tinggi di Indonesia mendadak dihebohkan oleh kabar mengejutkan terkait pemeringkatan perguruan tinggi internasional. Sejumlah universitas di Indonesia dipastikan dieksklusi atau dikeluarkan dari publikasi resmi pemeringkatan Ranking Web of Universities (Webometrics) edisi Juli 2026. Alasan utamanya, kampus-kampus tersebut kedapatan mempromosikan versi pemeringkatan palsu yang berisi data rekayasa.
Kabar ini mencuat setelah pencetus sekaligus pengelola utama Webometrics, Isidro F. Aguillo, menyampaikan pernyataan resminya melalui akun X (dahulu Twitter) pribadinya @isidroaguillo pada Kamis (30/7/2026). "Indonesian Universities excluded from the public Ranking Web of Universities (Webometrics) July 2026 official edition for promoting fake versions with fabricated ranks of our work (Universitas-universitas di Indonesia dieksklusi (dikeluarkan) dari edisi resmi Ranking Web of Universities (Webometrics) publik periode Juli 2026 karena mempromosikan versi palsu dengan peringkat rekayasa dari karya kami)," tulis Isidro F. Aguillo dalam unggahannya yang telah dilihat puluhan ribu kali.
Dari unggahan itu diketahui, ada 37 kampus yang bakal didepak dari webometrics. Di antaranya ada kampus-kampus ternama dalam negeri seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Sebelas Maret UNS Surakarta, Telkom University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Negeri Jakarta.
Cuitan pakar pemeringkatan akademis tersebut langsung memicu gelombang tanggapan dan perdebatan hangat dari warganet serta akademisi Indonesia. Pengguna akun @Iwinsial sempat menanyakan klarifikasi mengenai apa yang dimaksud dengan versi palsu tersebut. Isidro secara tegas membalas: "The website http://webometrics.org is not the official webometrics ranking (Situs web http://webometrics.org bukanlah pemeringkatan resmi Webometrics)," memperjelas bahwa domain berakhiran .org tersebut merupakan situs tiruan yang mencuri dan merekayasa data pemeringkatan.
Pertanyaan lain muncul dari akun @AJBinbrek yang mempertanyakan apakah pihak kampus sengaja mempromosikan data tersebut atau sekadar menjadi korban penipuan. "Apakah mereka mempromosikan peringkat palsu karena tertipu atau sengaja melakukannya? Apakah Anda sudah menanyakan hal ini ke pihak universitas sebelum mengeksklusi mereka?" tanyanya.
Reaksi kekecewaan juga dilontarkan oleh pengguna lain. Akun @VerusQuaesitor menyayangkan kampus almamaternya yang kembali terjebak. "Kampus lamaku sekali lagi tertipu scam, padahal katanya universitas terbaik di Indonesia." Sementara itu, akun @Theme_from_Jaws mengutarakan keterkejutannya. "Universitas Indonesia tidak (terkena eksklusi)? Saya sejujurnya terkejut."
Meski begitu, kasus ini bukanlah dinilai sebagai pemalsuan peringkat kampus. Yang terjadi, akibat ketidaktahuan terkait perubahan skema publikasi resmi ini, banyak civitas akademika, tim kehumasan kampus (termasuk sejumlah PTN/PTS ternama), hingga media massa nasional memungut data pemeringkatan dari situs-situs tidak resmi (unauthorized/fake domain). Kampus-kampus tersebut kemudian mempublikasikan siaran pers atau klaim "kenaikan peringkat" berdasarkan data dari domain palsu tersebut, yang berujung pada teguran publik dari pihak Cybermetrics Lab.
Situs asli Webometrics yang dahulu diakses via webometrics.info telah mengubah skema publikasi resminya. Sejak 2025/2026, data resmi mereka tidak lagi diunggah secara terbuka secara bebas di website lama, melainkan didistribusikan secara resmi melalui repositori Figshare atau dikirimkan langsung secara tertulis oleh Isidro F. Aguillo kepada pihak rektorat/humas kampus yang mengajukan data.
Siapa Sosok Isidro F. Aguillo?
Bagi dunia akademis global, nama Isidro F. Aguillo bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah seorang ilmuwan informasi (information scientist) asal Spanyol yang memimpin Cybermetrics Lab, sebuah kelompok riset di bawah naungan Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC)—lembaga penelitian publik terbesar di Spanyol.
Pada tahun 2004, Isidro menginisiasi pembentukan Webometrics Ranking of World Universities. Ia memelopori metodologi indikator webometric dan scientometric untuk mengukur sejauh mana perguruan tinggi mempublikasikan karya ilmiah, transparansi riset, serta dampak kehadiran digital mereka di tingkat global.
Webometrics merupakan salah satu sistem pemeringkatan universitas tertua dan terbesar di dunia yang menilai lebih dari 30.000 perguruan tinggi di berbagai negara. Berbeda dengan lembaga pemeringkatan lain yang kerap berfokus pada survei reputasi atau jumlah alumni berprestasi, Webometrics menekankan pada kehadiran web, aksesibilitas karya ilmiah (open access), dan jumlah sitasi riset.
Bagi institusi perguruan tinggi—khususnya di Indonesia—posisi di Webometrics memiliki pengaruh besar terhadap reputasi dan akreditasi. Peringkat Webometrics menjadi indikator transparansi publikasi ilmiah dan kinerja riset institusi di mata internasional.
Kemudian, peringkat Webometrics juga sering dijadikan acuan bagi calon mahasiswa baru dan masyarakat umum untuk menilai kualitas digital dan akademis suatu kampus. Tingginya peringkat Webometrics juga mempermudah kampus menjalin kerja sama riset dan pertukaran mahasiswa dengan universitas luar negeri.
Kejadian tertipunya sejumlah humas dan manajemen kampus oleh situs klaim palsu webometrics.org ini menjadi catatan kritis bagi tata kelola informasi di perguruan tinggi Indonesia. Para pengamat berharap insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi civitas akademika untuk lebih teliti memverifikasi sumber data sebelum mempublikasikannya ke khalayak luas.
Meskipun Isidro F. Aguillo gencar mengkritik dan menandai kampus-kampus di dunia (termasuk di Indonesia) yang secara tidak sengaja mengutip situs tiruan tersebut, tindakan ini umumnya berupa teguran reputasi dan koreksi publik terhadap berita/rilis pers kampus terkait. Pihak perguruan tinggi Indonesia (seperti UNJ, ITB, Telkom University, dan lainnya) yang mengklarifikasi atau menerima kiriman data resmi dari Isidro F. Aguillo secara gradual memperbarui acuan data mereka langsung ke jalur data Figshare/surat resmi agar tetap terdaftar secara valid pada edisi Juli 2026.
MAR