JAKARTA, AFU.ID — Air liur yang menetes saat tidur umumnya merupakan kondisi normal dan sering dialami banyak orang. Meski begitu, kebiasaan tersebut juga dapat dipicu posisi tidur, hidung tersumbat, hingga gangguan saluran napas tertentu yang perlu diwaspadai jika terjadi berlebihan.
Dokter spesialis tidur dari Yale Centers for Sleep Medicine, Dr. Christine Won, mengatakan posisi tidur telentang menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi air liur yang keluar saat tidur. Menurutnya, penggunaan bantal di sisi tubuh juga dapat membantu menjaga posisi tetap stabil sepanjang malam.
"Jika Anda cenderung berguling-guling dan kesulitan tidur telentang, meletakkan bantal di sekitar tubuh dapat membantu menjaga posisi tetap stabil," ujar Won, dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (14/6/2026).
Selain posisi tidur, hidung tersumbat juga menjadi penyebab seseorang lebih sering bernapas melalui mulut sehingga air liur lebih mudah menetes. Kondisi tersebut dapat dikurangi dengan mengatasi alergi atau pilek agar saluran napas kembali lancar.
Won menambahkan plester hidung dapat membantu memperbaiki aliran udara saat tidur. Sebaliknya, penggunaan plester mulut tidak disarankan karena berpotensi mengganggu proses pernapasan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Pennsylvania, Dr. Mark Wolff, menyarankan masyarakat menghindari makanan atau minuman yang terlalu asam maupun manis sebelum tidur. Jenis makanan tersebut dapat merangsang produksi air liur sehingga meningkatkan risiko ngiler saat tidur.
Menurut Wolff, refluks asam lambung juga dapat memicu produksi air liur berlebih. Ia juga mengingatkan penggunaan alat ortodonti seperti retainer atau Invisalign dapat meningkatkan produksi air liur apabila menimbulkan rangsangan pada rongga mulut.
Secara umum, keluarnya air liur saat tidur bukan kondisi yang perlu dikhawatirkan karena refleks menelan memang berkurang ketika seseorang tertidur. Namun, apabila air liur terus menetes saat beraktivitas di siang hari atau muncul secara tiba-tiba dalam jumlah berlebihan, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Dokter spesialis otolaringologi pediatrik Johns Hopkins Medicine, Dr. Emily Boss, menjelaskan kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan seperti sleep apnea maupun sumbatan saluran napas akibat pembesaran amandel, adenoid, atau jaringan di belakang tenggorokan.
"Air liur yang menetes juga dapat disebabkan oleh kondisi genetik dan neurologis yang memengaruhi kontrol otot atau menelan, seperti cerebral palsy, sindrom Down, penyakit Parkinson, demensia, ALS, atau stroke," kata Boss.
Penanganan air liur berlebih bergantung pada penyebabnya. Terapi dapat berupa pengobatan gangguan saluran napas, latihan menelan, penggunaan alat bantu seperti CPAP, hingga pemberian obat atau tindakan medis tertentu pada kasus yang lebih berat. Wolff menegaskan, produksi air liur yang terlalu sedikit justru lebih berisiko dibandingkan produksi yang berlebihan. (ANT/RAI)