JAKARTA, AFU.ID — Korban kekerasan dalam hubungan kerap sulit meninggalkan pelaku karena terjebak dalam siklus kekerasan yang terus berulang. Psikolog klinis, Gisella Tani Pratiwi, menjelaskan pola tersebut membuat korban terus memiliki harapan, meski pada akhirnya kembali mengalami kekerasan.
Siklus itu umumnya terjadi dalam hubungan romantis, baik saat berpacaran maupun dalam pernikahan. Pada tahap awal, hubungan tampak berjalan seperti relasi yang sehat. Namun, di baliknya mulai muncul tanda-tanda seperti perhatian yang berlebihan, sikap posesif, hingga kontrol terhadap pasangan. "Tapi kemudian biasanya dalam relasi ada masalah. Tahap berikutnya yaitu munculnya kekerasan," kata Gisella, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, kekerasan yang muncul tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan verbal, psikis, seksual, hingga manipulasi emosional. Setelah melakukan kekerasan, pelaku biasanya meminta maaf, mengaku khilaf, berjanji berubah, lalu kembali bersikap romantis. Pola tersebut terus berulang sehingga korban merasa masih ada harapan hubungan dapat membaik. Padahal, seiring waktu fase romantis semakin singkat, sementara intensitas kekerasan justru semakin meningkat hingga akhirnya mendominasi hubungan.
Gisella menegaskan kondisi itu bukan terjadi karena korban memilih bertahan, melainkan akibat tekanan psikologis yang terus dialami. Dalam banyak kasus, korban telah dilemahkan secara mental maupun posisi sosial sehingga kehilangan keberdayaan untuk keluar dari hubungan. "Alasannya itu seringkali memang tanggung jawabnya di pelaku, bukan pada korban," ujarnya.
Selain tekanan psikologis, pelaku juga kerap menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan kontrol terhadap korban. Mulai dari ancaman, intimidasi, hingga membuat korban merasa dirinya bersalah atas kekerasan yang diterimanya. Kontrol finansial juga menjadi faktor yang membuat korban sulit pergi. Di sisi lain, pelaku sering mengisolasi korban dari keluarga, teman, maupun lingkungan sosial sehingga korban kehilangan tempat untuk mencari bantuan.
Menurut Gisella, semakin lama korban berada dalam siklus tersebut, semakin besar pula risiko yang dihadapi apabila mencoba melawan. Karena itu, ia menilai pemahaman mengenai pola hubungan yang penuh kekerasan penting agar masyarakat tidak menyalahkan korban dan lebih mampu memberikan dukungan ketika kasus serupa terjadi. (RAI)