JAKARTA, AFU.ID - Situasi geopolitik yang tidak terduga berdampak pada perubahan pola pengaturan rencana perjalanan bagi pelancong yang ingin tetap menjelajahi dunia namun dengan mempertimbangkan rasa aman.
Ditulis laman Channel News Asia, Minggu (31/5) waktu setempat, pakar tren dan destinasi wisata Skyscanner yang berbasis di Singapura Brendan Walsh mengatakan dalam laporan Smarter Summer, mencatat 91 persen pelancong Singapura masih yakin untuk berpergian di musim panas, hanya 35 persen yang belum memesan tiket perjalanan namun secara aktif menunjukkan keinginan untuk pergi meskipun ada ketidakpastian yang berlangsung.
Pengamat industri lainnya mencatat peningkatan destinasi yang dianggap stabil secara politik dan dapat diprediksi, seperti Portugal, Kanada, atau Swiss. Singapura, yang telah lama membina citra stabilitas dan keamanan, juga mendapat manfaat dari peningkatan lalu lintas penumpang dan posisinya sebagai pusat transit regional utama tahun ini. Tren tersebut mungkin memiliki efek domino yang tak terduga.
Cara mereka memesan juga sedang berubah. Alih-alih memesan perjalanan secara ketat setengah tahun sebelumnya, banyak yang melakukan reservasi jauh lebih dekat dengan tanggal keberangkatan mereka daripada biasanya. Campuran kompleks antara keterbukaan, kehati-hatian, dan penilaian kini membentuk perilaku pelanggan, kata Walsh.
Selain itu, banyak wisatawan saat ini beralih dari destinasi populer ke tempat-tempat yang lebih unik dan bermakna karena dorongan memilih destinasi aman dan lebih tenang khususnya di Asia.
“Minat yang meningkat terhadap destinasi regional Asia lebih didorong oleh penemuan dan preferensi wisatawan yang berkembang, daripada penghindaran yang disengaja terhadap wilayah Barat atau wilayah yang berdekatan dengan konflik,” kata Walsh.
Sementara itu, penasihat keamanan di perusahaan manajemen risiko kesehatan dan keamanan International SOS, Lindsay Maloney mengatakan para pelancong perlu menilai rencana perjalanan mereka secara strategis, objektif – dan jauh lebih sering.
Maloney menyarankan para pelancong untuk beralih dari pola pikir berbasis kepercayaan diri ke pola pikir berbasis kesiapan untuk benar-benar beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Asumsi bahwa perjalanan akan berjalan lancar sudah tidak realistis lagi, tetapi bukan berarti perjalanan harus diliputi rasa takut. Pertama, para pelancong harus menerima bahwa gangguan adalah hal yang normal, bukan luar biasa, dan bersiap menghadapinya. Keterlambatan, protes, cuaca ekstrem, atau hilangnya konektivitas kini menjadi bagian dari lingkungan perjalanan,” katanya.
Untuk itu, merencanakan alternatif secara mental dapat mengurangi stres dan menghasilkan keputusan yang lebih baik di bawah tekanan. Ia juga menyarankan untuk mengembangkan kesadaran situasional daripada rutinitas, dan fokus pada mengendalikan persiapan, pilihan komunikasi dan mengetahui pusat bantuan saat perjalanan.
Para pelancong juga harus tetap mengetahui informasi tentang lingkungan sekitar, dan secara teratur memeriksa informasi terbaru, dan bersedia mengubah rencana lebih awal daripada mengabaikan tanda-tanda peringatan.
Maloney juga menyarankan untuk bersikap strategis pada biaya transaksi luar negeri dan tidak terlalu banyak berbagi informasi diri melalui unggahan langsung di sosial media untuk menghindari risiko keamanan. Kemas juga dokumen perjalanan penting yang bisa langsung diakses meski tanpa koneksi internet.
“Mengunduh peta offline ke ponsel Anda, menyimpan kontak kedutaan dan kontak darurat, serta dokumen penting (termasuk salinan paspor, rencana perjalanan, dan visa) dengan aman tanpa memerlukan koneksi internet sangat penting. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari norma saat ini dalam hal perjalanan yang aman,” katanya. (ANT/NAD)