JAKARTA, AFU.ID — Pengembangan sektor wisata kebugaran dan kencatikan nasional sangat memerlukan ekosistem industri yang terintegrasi secara berkelanjutan. Pasalnya, diversifikasi produk pariwisata unggulan itu terbukti mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan berkualitas tinggi.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) kini sedang gencar mengoptimalkan seluruh potensi pasar internasional tersebut. Langkah strategis itu guna memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai destinasi global yang resilien.
Melansir website Kemenpar RI, Minggu (7/6/2026), perubahan perilaku pascapandemi ikut mengubah orientasi para pelancong dunia. Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa lantas memberikan apresiasi tinggi terhadap ekshibisi.
“Bali Wellness and Beauty Expo 2026 kembali menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dengan begitu, pelaksanaan kegiatan bisnis pariwisata mampu menjadi penggerak utama roda perekonomian makro daerah. Kemenpar RI pun memanfaatkan momentum pameran berkala untuk menarik minat investasi para pengusaha luar.
“Wellness (kesehatan, red) menjadi tren yang berkembang sangat pesat, terutama sepanjang Januari hingga April 2026. Indonesia menerima 4,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara atau tumbuh sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tutur Wamenpar Ni Luh.
Berdasarkan data Global Wellness Institute, nilai ekonomi wellness global telah mencapai USD6,8 triliun. Bahkan, proyeksi sektor itu akan mengalami peningkatan menjadi USD9,8 triliun pada tahun 2029 mendatang.
“Indonesia memiliki seluruh modal dasar yang dibutuhkan untuk menjadi pemain utama dalam tren tersebut. Penyelenggaraan Bali Wellness and Beauty Expo 2026 menjadi bukti nyata, Indonesia semakin serius membangun ekosistem wellness yang terintegrasi,” pungkas Ni Luh Puspa. (ADR)