AFU.id

Rekrutmen Teroris Bergeser ke Media Sosial, BNPT: Perempuan dan Anak Jadi Target Radikalisme

Bagikan:

Penulis: Raihan Immaduddin

Ringkasan Berita

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan bahwa pergeseran rekrutmen teroris kini beralih ke media sosial, menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai kelompok rentan yang terpapar paham radikal. Dalam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026-2029, BNPT menekankan pentingnya penguatan keamanan ruang digital untuk merespons ancaman ini, yang kini lebih sulit dideteksi karena dilakukan secara tersembunyi. Langkah mitigasi yang diusulkan termasuk pengawasan lebih ketat serta program pembinaan bagi anak-anak yang terindikasi terpapar ekstremisme.

Rekrutmen Teroris Bergeser ke Media Sosial, BNPT: Perempuan dan Anak Jadi Target Radikalisme
Kegiatan Penguatan Kolaborasi Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026-2029 di Gedung Tribrata, Jakarta, Senin (27/7/2026). (Foto: AFU.ID)

BNPT juga mengidentifikasi perempuan, anak-anak, dan remaja sebagai kelompok yang paling rentan terpapar paham radikal melalui media digital. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah bersama aparat intelijen dan penegak hukum akan memperkuat pengawasan sekaligus menjalankan program pembinaan dan rehabilitasi. Sepanjang akhir 2024 hingga 2025, sekitar 250 anak di bawah umur telah mengikuti program tersebut setelah terindikasi terpapar ekstremisme.

Perubahan pola ancaman itu menjadi salah satu dasar penyusunan RAN PE 2026-2029 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden sebagai tindak lanjut Asta Cita Presiden dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Program tersebut menitikberatkan penguatan kolaborasi antarkementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk mencegah berkembangnya ekstremisme berbasis kekerasan. Selain itu, pelaksanaan tahap kedua RAN PE juga mencakup sembilan prioritas: yaitu, kesiapsiagaan nasional; ketahanan keluarga dan komunitas; perlindungan perempuan; pemuda, dan anak; komunikasi strategis; deradikalisasi; perlindungan korban; dan penguatan kerja sama internasional.

Eddy menegaskan, ancaman terorisme akan terus berkembang mengikuti perubahan zaman sehingga membutuhkan respons yang adaptif dari seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mencegah penyebaran paham radikal yang kini semakin masif di ruang digital. "Terorisme bersifat persisten and adaptif. Artinya, ancaman ini akan terus ada meski pelakunya berubah, sekaligus terus menyesuaikan cara, bentuk, dan media yang digunakan," pungkasnya. (RAI)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi