JAKARTA, AFU.ID - Gejolak konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berdampak besar bagi geopolitik global, sekaligus mengancam keselamatan pasukan perdamaian Indonesia (UNIFIL) di Lebanon pasca-gugurnya empat prajurit TNI.
Situasi darurat tersebut memicu Komisi I DPR RI mencecar Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI dalam rapat kerja (raker) yang digelar di kompleks parlemen, Senayan. Parlemen mempertanyakan langkah mitigasi pemerintah terhadap efek domino krisis global serta kejelasan opsi penyelamatan prajurit di zona perang.
Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menegaskan, eskalasi di Timur Tengah bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan guncangan hebat yang mengancam stabilitas politik dunia, di mana Indonesia dipastikan tidak akan kebal dari dampaknya.
“Jadi serangan (Amerika Serikat dan Israel) ke Iran, mudah-mudahan tidak membawa kita dalam kesulitan walaupun tentu berdampak,” ujar Utut di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dia menjelaskan, konfrontasi bersenjata di wilayah tersebut telah menguras anggaran yang sangat masif hingga menyentuh angka ratusan triliun rupiah. Skala biaya perang sebesar itu dinilai akan menjadi beban yang sangat fatal jika sampai menyeret Indonesia.
Di sisi lain, Utut mengingatkan bahwa di tengah situasi yang kian terjepit ini, diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sedang diuji untuk membuktikan taji politiknya di panggung internasional.
“Kalau kita rupiahkan AS sekitar 507 triliun. Kita bandingkan betapa kalau itu menimpa kita, kita akan sangat kerepotan. Kita berdoa kita tidak menjadi negara yang banyak musuh, tetapi kita berdoa juga di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kita makin memainkan peran politik penting di dunia,” ucapnya.
Gugurnya empat prajurit TNI di Lebanon akibat serangan Israel memicu perdebatan sengit di dalam negeri. Pemerintah kini dihadapkan pada tekanan publik yang terbelah antara desakan evakuasi total demi keselamatan nyawa prajurit, atau tetap bertahan demi menjaga marwah konstitusi terkait perdamaian dunia.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto yang hadir dalam rapat, diminta memberikan garansi konkret terkait risiko tersebut. Terlebih, Indonesia memikul beban moral yang besar sebagai negara pengirim kontingen terbesar dalam misi UNIFIL.
“Di UNIFIL (pasukan sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon) dari delapan ribu (prajurit), kita yang terbesar, 754 orang. Dikomandani oleh seorang mayor jenderal dari Spanyol dan kita terbanyak 754,” urai Utut.
Selain menuntut pertanggungjawaban terkait keselamatan pasukan di Lebanon, raker yang juga dihadiri seluruh kepala staf angkatan ini memanfaatkan momentum untuk mengejar kejelasan sejumlah isu pertahanan sensitif lainnya yang sempat menggantung. (FAD)