JAKARTA, AFU.ID — Alergi protein susu sapi dan intoleransi laktosa pada anak kerap dianggap sebagai kondisi yang sama, padahal keduanya memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda. Kekeliruan mengenali kedua kondisi tersebut berisiko membuat penanganan anak menjadi tidak tepat.
Komunikator Kesehatan Kalbe Nutritionals dr. Laurencia Ardi, M.Gizi., AIFO-K., FISQua menjelaskan alergi protein susu sapi dipicu oleh respons sistem kekebalan tubuh, sedangkan intoleransi laktosa terjadi karena tubuh tidak mampu mencerna kandungan laktosa. "Alergi protein susu sapi melibatkan respons sistem imun, sedangkan intoleransi laktosa berkaitan dengan kemampuan tubuh mencerna laktosa," kata dr. Laurencia Ardi dalam siaran pers, Sabtu (28/6/2026).
Menurutnya, alergi protein susu sapi yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu kualitas hidup anak. Gejala yang muncul berulang kali dapat membuat anak tidak nyaman saat beraktivitas maupun beristirahat.
Kondisi tersebut juga berisiko menurunkan nafsu makan anak sehingga kebutuhan gizi hariannya tidak terpenuhi secara optimal. Karena itu, pemenuhan nutrisi menjadi bagian penting dalam penanganan anak dengan alergi protein susu sapi.
Dr. Laurencia mengatakan anak dengan kondisi tersebut membutuhkan sumber lemak berkualitas, seperti Medium Chain Triglycerides (MCT), yang lebih mudah diserap tubuh sebagai sumber energi. Selain itu, asupan protein, karbohidrat, vitamin, mineral, asam amino esensial, serta omega-3 dan omega-6 juga harus tetap terpenuhi dari bahan makanan yang aman.
"Pemilihan sumber lemak yang tepat menjadi bagian dari strategi pemenuhan gizi pada anak dengan alergi protein susu sapi," ujar dr. Laurencia. Untuk membantu mengenali kemungkinan alergi makanan, orang tua disarankan memperkenalkan satu jenis makanan baru selama tiga hari berturut-turut atau menerapkan metode 3-Day Wait Rule. Langkah tersebut memudahkan pengamatan apabila muncul reaksi alergi setelah anak mengonsumsi makanan tertentu.
Orang tua juga dianjurkan membuat food diary dengan mencatat makanan yang dikonsumsi anak beserta gejala yang muncul setelahnya. Cara ini dapat membantu dokter mengidentifikasi pemicu alergi secara lebih akurat. "Hal yang terpenting adalah melakukan observasi, mencatat makanan yang dikonsumsi anak serta memperhatikan gejala yang muncul setelahnya," kata dr. Laurencia.
Ia menambahkan gejala alergi dapat muncul pada saluran pencernaan, kulit, maupun saluran pernapasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap anak. Jika gejala yang muncul mengkhawatirkan setelah anak mengonsumsi makanan tertentu, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar anak mendapat penanganan yang tepat. (ANT/RAI)