JAKARTA, AFU.ID — Prancis dan Inggris akan saling berhadapan pada laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026 setelah sama-sama gagal melaju ke final. Meski kerap disebut sebagai pertandingan yang paling tidak diinginkan oleh tim yang kalah di semifinal, FIFA tetap mempertahankan laga tersebut, berbeda dengan UEFA yang telah menghapusnya dari ajang Euro sejak 1984.
Bagi FIFA, pertandingan perebutan tempat ketiga bukan sekadar pelengkap turnamen. Selain menentukan peringkat akhir, laga tersebut memiliki nilai ekonomi yang besar melalui penjualan tiket, hak siar, hingga pendapatan iklan. Kehadirannya juga menjaga antusiasme penonton pada jeda antara semifinal dan partai final.
Pertandingan itu juga berpengaruh terhadap aspek olahraga. Karena berstatus laga resmi FIFA, hasilnya akan memengaruhi perolehan poin ranking dunia yang nantinya berpengaruh pada penempatan unggulan di berbagai kompetisi internasional. Tim pemenang pun memperoleh hadiah lebih besar, yakni 29 juta dolar AS, sedangkan peringkat keempat menerima 27 juta dolar AS.
Dari sisi pemain, perebutan tempat ketiga menjadi kesempatan terakhir menutup turnamen dengan hasil positif sekaligus menambah catatan individu. Laga tersebut kerap memengaruhi persaingan Golden Boot, seperti yang pernah dilakukan Eusebio pada 1966, Salvatore "Toto" Schillaci pada 1990, Davor Suker pada 1998, hingga Thomas Muller pada 2010. Pada edisi 2026, pertandingan Prancis kontra Inggris juga menjadi peluang bagi Kylian Mbappe dan Harry Kane untuk menambah koleksi gol mereka.
Pertandingan perebutan tempat ketiga telah menjadi bagian dari Piala Dunia sejak edisi 1934, meski sempat ditiadakan pada 1950 karena turnamen menggunakan format grup di babak akhir. Sejak Piala Dunia 1954, laga tersebut selalu dimainkan dan bahkan melahirkan sejumlah rekor, di antaranya gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia yang dicetak Hakan Sukur dalam 11 detik pada 2002 serta rekor 13 gol Just Fontaine dalam satu edisi Piala Dunia setelah mencetak empat gol pada perebutan tempat ketiga tahun 1958.
Meski memiliki sejarah panjang, keberadaan laga ini masih menuai kritik. Mantan pelatih Belanda Louis van Gaal menilai pertandingan perebutan tempat ketiga tidak adil karena membuat tim yang gagal ke final berisiko mengakhiri turnamen dengan dua kekalahan beruntun. Pandangan serupa juga disampaikan Gareth Southgate dan legenda Inggris Alan Shearer yang menganggap pertandingan tersebut tidak lagi memiliki nilai kompetitif dan hanya menambah beban fisik pemain.
Berbeda dengan FIFA, UEFA memilih menghapus laga perebutan peringkat ketiga mulai Euro 1984. Organisasi itu menilai pertandingan tersebut kurang diminati penonton, memiliki daya tarik yang rendah, serta menambah jadwal bagi pemain yang telah menjalani turnamen panjang. Sejak saat itu, dua tim yang kalah di semifinal Euro langsung mengakhiri kompetisi sebagai semifinalis tanpa harus memperebutkan posisi ketiga. (RAI)