JAKARTA AFU.ID — Kanker usus besar semakin menjadi ancaman wanita muda karena gejala awalnya sering kali dianggap gangguan pencernaan biasa atau masalah siklus menstruasi. Kondisi tersebut membuat banyak kasus baru terdeteksi ketika penyakit sudah berkembang ke stadium yang lebih lanjut.
Gejala yang sering muncul antara lain kram perut, perut kembung, perubahan pola buang air besar, hingga kekurangan zat besi tanpa penyebab yang jelas. Keluhan-keluhan tersebut sering kali tidak mendapat perhatian serius karena dianggap masalah kesehatan ringan yang umum terjadi.
Ahli gastroenterologi dan hepatologi, dr. Saurabh Sethi, mengatakan banyak wanita muda mengabaikan tanda-tanda awal kanker usus besar selama bertahun-tahun. “Kram, kembung, dan perubahan usus pada wanita muda seringkali diabaikan selama bertahun-tahun dan kanker usus besar tumbuh secara diam-diam sepanjang waktu,” kata Sethi.
Ia menambahkan keterlambatan diagnosis menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker usus besar pada kelompok usia muda. Menurutnya, sebagian besar pasien baru mengetahui penyakit tersebut setelah kondisinya memasuki stadium lanjut. “Tiga dari empat diagnosis di usia muda sudah berada pada stadium lanjut ketika akhirnya terdeteksi,” ujarnya.
Selain faktor keterlambatan diagnosis, Sethi menyoroti meningkatnya konsumsi makanan ultra proses sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan kasus kanker usus besar. Pola makan semacam itu dinilai dapat mengurangi keragaman mikrobioma usus dan memicu peradangan kronis yang berisiko memicu pertumbuhan sel kanker.
Menurutnya, tren peningkatan kanker kolorektal usia muda terus terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Data yang ia sampaikan menunjukkan kasus kanker kolorektal dini meningkat sekitar tiga persen sejak 2013.
Sethi juga menekankan pentingnya konsumsi serat untuk menjaga kesehatan usus dan mendukung pertumbuhan bakteri baik di saluran pencernaan. Asupan serat yang cukup dinilai mampu membantu menjaga keseimbangan mikrobioma usus yang berperan penting dalam mencegah berbagai penyakit.
Selain pola makan, tingkat stres yang tinggi pada wanita muda disebut turut berkontribusi terhadap peningkatan risiko kanker usus besar. Stres berkepanjangan dapat memicu peradangan, mengganggu keseimbangan bakteri usus, serta mempercepat kerusakan sel pada lapisan usus besar.
Meski pemeriksaan kanker usus besar umumnya direkomendasikan mulai usia 45 tahun, banyak kasus justru ditemukan pada pasien berusia 30-an tahun. Kondisi tersebut membuat para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala-gejala yang sering dianggap sepele agar kanker dapat dideteksi lebih dini dan peluang kesembuhan menjadi lebih besar. (ANT/RAI)