JAKARTA, AFU.ID – Cuaca panas mulai dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia seiring musim kemarau yang meluas dan menguatnya indikasi El Nino. Kondisi ini bukan hanya berpotensi mengurangi curah hujan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan hingga tekanan terhadap ketersediaan air bagi warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sebanyak 263 Zona Musim atau 37,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian III Juni 2026.
Suhu udara maksimum pada periode 22–24 Juni 2026 tercatat berada di kisaran 35 hingga 35,5 derajat Celsius di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Suhu tertinggi terpantau mencapai 38,6 derajat Celsius di Manokwari, Papua Barat.
BMKG menyebut perluasan musim kemarau terjadi seiring kondisi El Nino. Anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 tercatat sebesar positif 1,61, yang mengindikasikan potensi berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam beberapa hari ke depan, sejumlah wilayah diprakirakan mengalami curah hujan rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian. Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.
Kondisi panas dan minim hujan perlu diwaspadai warga karena dapat memicu dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heatstroke. Risiko itu lebih tinggi bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja lapangan, serta warga dengan penyakit jantung, diabetes, gangguan pernapasan, atau penyakit kronis lainnya.
Gejala awal yang perlu diperhatikan antara lain rasa haus berlebihan, tubuh lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram, jantung berdebar, serta warna urine yang lebih gelap. Kondisi yang memburuk, seperti tubuh sangat panas, berhenti berkeringat, bingung, kejang, atau pingsan, membutuhkan penanganan medis segera.
Warga juga perlu mengantisipasi dampak kemarau terhadap kebutuhan air sehari-hari. Curah hujan yang rendah dapat mengurangi pasokan air di sejumlah daerah, terutama kawasan yang masih mengandalkan sumber air permukaan, sumur dangkal, maupun distribusi air bersih terbatas.
Penggunaan air di rumah tangga perlu diatur sejak awal, termasuk dengan menghindari pemborosan, menampung air saat pasokan tersedia, dan memastikan kebutuhan minum keluarga tetap tercukupi.
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, warga dianjurkan minum air secara teratur tanpa menunggu haus, mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat siang, memakai pakaian longgar dan menyerap keringat, serta menggunakan pelindung kepala atau payung saat harus beraktivitas di bawah matahari.
BMKG memprakirakan musim kemarau 2026 dapat berlangsung lebih kering dari kondisi normal di banyak wilayah. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga September, sehingga kesiapsiagaan terhadap panas, kekurangan air, dan kebakaran hutan maupun lahan perlu diperkuat sejak sekarang. (RHU)