JAKARTA, AFU.ID - Laju penguatan rupiah dan Index Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah berada pada trend positif, terancam berbalik arah gara-gara ulah tantrum Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Memasuki bulan keempat konflik, ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Komando Sentral AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan militer terbaru ke wilayah Iran atas instruksi langsung dari Presiden Donald Trump.
Ulah Trump itu membuat wilayah Timur Tengah kembali memanas dan mengancam situasi pasar keuangan dan pasar modal di Indonesia. Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,71% ke posisi 5.902,37—menjadikannya kinerja bursa terbaik di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Di saat yang sama, Rupiah tampil perkasa dengan menguat 0,55% ke level Rp17.950/US$, berhasil menjebol kembali ke bawah level psikologis Rp18.000/US$. Sentimen positif dalam negeri ini disokong penuh oleh keputusan berani Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50% lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan.
Namun, pesta tersebut mendadak layu sebelum berkembang. Belum sempat pasar domestik menguji level psikologis 6.000, ulah Trump yang konfrontatif terhadap Iran membuat penguatan Rupiah dan IHSG terancam. Pada perdagangan Kamis (11/6/2026) sore pukul 15.00 WIB, IHSG berbalik arah (koreksi) dengan melemah 27,98 poin atau 0,47% ke posisi 5.874,38.
Pasar modal terseret ke zona merah seiring dengan bursa Wall Street dan regional Asia yang kompak rontok akibat kepanikan global. Melalui pernyataan resminya, Trump melemparkan ancaman keras bahwa Teheran akan "membayar harga yang sangat mahal" jika terus menunda-nunda kesepakatan damai yang disodorkan Washington.
Iran membalas dingin dengan menegaskan akan menggempur balik setiap jengkal ancaman militer AS. Situasi kian karut-marut setelah Trump membuat klaim sepihak di media, menyatakan bahwa militer AS telah sukses menjalankan "misi rahasia" mengawal lebih dari 200 kapal komersial melintasi Selat Hormuz dan memasok 100 juta barel minyak ke pasar global.
Ironisnya, klaim heroik Trump ini langsung dibantah oleh menteri energinya sendiri, Chris Wright, yang mengaku tidak tahu-menahu soal operasi rahasia tersebut. Sebagai respons atas agresivitas AS, Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz pada Kamis (11/6/2026) bagi seluruh kapal tanker minyak maupun kapal komersial.
Mengingat Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, keputusan ini langsung memicu kepanikan energi global. Harga minyak mentah jenis WTI dan Brent kembali meroket, mengancam inflasi dunia, dan membuat pasar global berada dalam mode risk-off (menghindari risiko).
Tantrum geopolitik Trump ini memukul telak sentimen positif yang baru saja dibangun di dalam negeri. "Sentimen pasar tetap didominasi perkembangan di Timur Tengah, setelah CENTCOM mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Ancaman lonjakan harga energi akibat perang Iran memicu kekhawatiran baru di pasar obligasi global. Investor berspekulasi bahwa bank sentral dunia, termasuk The Fed yang kini dipimpin oleh Ketua Baru Kevin Warsh, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan (higher for longer). Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps hingga akhir tahun merangkak naik ke angka 43%. Alhasil, yield US Treasury 10Y melambung ke 4,55% dan tenor 30Y kembali menembus 5%.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini memaksa pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia ikut tertekan. Yield obligasi tenor 10 tahun Indonesia melonjak ke level 7,479%, menandakan tren penjualan portofolio oleh investor asing yang memilih mengamankan asetnya ke dalam mata uang dolar.
Fenomena ini terkonfirmasi dari data perdagangan saham, di mana meski IHSG sempat terbang pada Rabu kemarin, pasar saham Indonesia tetap mencatatkan net foreign outflow (modal asing keluar) mencapai Rp3,13 triliun.
Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, mengonfirmasi bahwa pelemahan IHSG ke level 5.874 pada Kamis sore dipicu oleh transisi sikap investor ke arah risk-off. Investor memilih bermain aman di tengah ketidakpastian global dan rencana aksi demonstrasi besar di dalam negeri yang berpotensi menambah volatilitas jangka pendek.
"Masih ada anggapan di mata investor bahwa berbagai langkah yang ditempuh pemerintah dan otoritas untuk menjaga stabilitas rupiah belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan pasar secara penuh," ujar Elandry.
Padahal dari segi fundamental makroekonomi, Indonesia menunjukkan rapor yang cukup solid. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Mei 2026 bertahan di level tinggi 120,9. Selain itu, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal I-2026 membaik dengan kewajiban neto yang turun signifikan menjadi 227,6 miliar dolar AS (15,5% dari PDB) dari kuartal sebelumnya sebesar 273,4 miliar dolar AS.
Dinamika pasar ke depan diprediksi akan bergerak sangat volatil. Selain memelototi ruang ganti kebijakan Donald Trump dan eskalasi fisik di Selat Hormuz, pelaku pasar global maupun domestik tengah memasang mode wait and see terhadap sejumlah agenda krusial dalam dua minggu ke depan.
Agenda-agenda tersebut adalah pertemuan dari Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, yaitu komite penentu kebijakan moneter utama di bawah Bank Sentral Amerika Serikat pada 17 Juni 2026. Kemudian pasar juga menunggu evaluasi tahunan oleh MSCI yang mengukur tingkat kemudahan dan kenyamanan bagi investor institusional global dalam berinvestasi di pasar saham suatu negara yang akan dirilis pada 18 Juni 2026.
Dari dalam negeri, pasar juga akan menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bank Indonesia yang akan berlangsung pada 18-19 Juni untuk menentukan arah BI Rate selanjutnya.
23 Juni 2026 MSCI Market Classification Review yang akan menjadi penentu status pasar modal Indonesia di mata investor asing. Terakhir, hasil dari Annual Market Classification Review yang diumumkan pada 23 Juni 2026 menjadi penentu krusial bagi status pasar modal Indonesia di mata investor global.
Pengumuman ini akan memverifikasi apakah Indonesia berhasil mempertahankan posisinya di kelompok Emerging Market atau berisiko diturunkan statusnya menjadi Frontier Market
Analis menilai, selama IHSG mampu mempertahankan area support pentingnya dan tidak jebol ke bawah, koreksi yang terjadi saat ini masih dikategorikan sebagai konsolidasi wajar pasca-kenaikan tajam. Namun, selama Donald Trump terus mengobarkan api konfrontasi dengan Iran, ruang bagi Rupiah dan IHSG untuk melanjutkan reli panjang akan selalu dibayangi risiko pembalikan arah secara mendadak.
MAR