JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah resmi menambah utang negara senilai 7 miliar yuan atau sekitar Rp18,57 triliun melalui penerbitan Panda Bond di pasar keuangan China. Ini merupakan pertama kalinya Indonesia menerbitkan surat utang negara dalam mata uang yuan. Dana tersebut akan digunakan untuk menutup kebutuhan pembiayaan APBN 2026 yang hingga akhir Juni telah mencatat defisit Rp196,5 triliun. Utang baru itu nantinya harus dibayar kembali beserta bunga melalui anggaran negara pada tahun-tahun mendatang.
Pemerintah membagi utang tersebut ke dalam dua kelompok. Sebanyak 5,6 miliar yuan dipinjam selama tiga tahun dengan bunga 1,90 persen dan jatuh tempo pada 30 Juli 2029. Sisanya sebesar 1,4 miliar yuan dipinjam selama lima tahun dengan bunga 2,19 persen dan harus dilunasi pada 30 Juli 2031. Penyelesaian transaksi dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli 2026.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, mengatakan investor di China menunjukkan minat besar terhadap surat utang Indonesia. “Transaksi ini mendapat sambutan yang sangat baik dari investor di pasar domestik Tiongkok dengan total peak orderbook mencapai sekitar 17 miliar yuan atau bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali,” kata Suminto, Kamis (23/07/26). Artinya, jumlah permintaan investor mencapai 17 miliar yuan, sementara pemerintah hanya menyerap 7 miliar yuan. Tingginya permintaan tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh bunga lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebesar 2,3 hingga 2,5 persen.
Meski disebut sebagai bukti kepercayaan investor, penerbitan Panda Bond tetap menambah kewajiban utang pemerintah. Negara harus menyediakan dana untuk membayar bunga setiap tahun dan mengembalikan seluruh pokok pinjaman saat jatuh tempo. Beban pembayaran juga dipengaruhi pergerakan nilai tukar karena utang dicatat dalam yuan, sementara sebagian besar penerimaan negara diperoleh dalam rupiah. Jika rupiah melemah terhadap yuan, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk melunasi utang dapat meningkat.
Utang tersebut diterbitkan ketika APBN semester pertama 2026 mengalami defisit Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Pemerintah memperkirakan defisit hingga akhir tahun dapat mencapai 2,85 persen terhadap PDB karena belanja negara diproyeksikan lebih besar daripada pendapatan. Panda Bond menjadi salah satu cara pemerintah memperoleh dana untuk menutup selisih antara penerimaan dan pengeluaran tersebut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan bahwa dana dari Panda Bond ditujukan untuk pembiayaan defisit APBN, bukan secara khusus untuk membayar utang proyek kereta cepat Whoosh.
AFU.ID sebelumnya telah memberitakan rencana pemerintah membuka jalur utang yuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis dolar Amerika Serikat. Saat itu, pemerintah belum mengungkap nilai akhir utang, bunga, maupun waktu pelunasannya. Penerbitan terbaru memperjelas bahwa negara mengambil tambahan pembiayaan Rp18,57 triliun dengan jatuh tempo antara 2029 dan 2031. Langkah diversifikasi tersebut tidak menghilangkan risiko utang, melainkan memindahkan sebagian kewajiban negara ke mata uang yuan.
Pemerintah menyatakan utang dalam yuan dapat memperluas sumber pendanaan dan menekan biaya bunga. Namun, manfaat bunga yang lebih rendah tetap perlu dibandingkan dengan risiko perubahan kurs serta kemampuan APBN membayar kewajiban di masa depan. Transparansi penggunaan dana juga penting karena hasil penerbitan hanya disebut untuk kebutuhan umum APBN 2026, tanpa rincian program yang akan dibiayai. Publik pada akhirnya tidak hanya perlu mengetahui bahwa utang tersebut diminati investor, tetapi juga bagaimana dana Rp18,57 triliun digunakan dan dari mana pembayaran kembali akan disiapkan. (RHU)