JAKARTA, AFU.ID - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh kini memicu sorotan tajam setelah terungkap bahwa beban utang yang ditanggung oleh konsorsium BUMN telah melebihi total nilai asetnya. Kondisi keuangan yang memburuk ini berdampak langsung pada kinerja keuangan BUMN yang tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), khususnya PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, PSBI mencatatkan rugi bersih mencapai Rp5,13 triliun. Angka kerugian hanya dalam kurun enam bulan pertama tahun 2026 tersebut bahkan telah melampaui total kerugian sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp4,99 triliun. Selain itu, neraca keuangan PSBI mencatatkan pembengkakan liabilitas atau total utang sebesar Rp21,54 triliun, yang berada di atas total nilai aset konsorsium sebesar Rp21,52 triliun.
Kondisi ketimpangan ini berdampak langsung pada kinerja keuangan PT KAI sebagai pemegang saham mayoritas PSBI dengan porsi 58,53 persen. Meski pendapatan KAI masih tumbuh 6,6 persen menjadi Rp17,95 triliun pada semester I 2026, laba bersih perseroan tergerus tajam hingga 73,9 persen menjadi tersisa Rp305,3 miliar akibat menanggung rugi bersih dari proyek Whoosh sebesar Rp3 triliun.
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, secara terbuka mengakui beban berat yang harus dipikul oleh para pemegang saham PSBI—konsorsium yang menguasai 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Ia menekankan bahwa tekanan keuangan ini merupakan masalah bawaan yang kini harus diselesaikan secara bertahap oleh pemerintah dan Danantara.
Di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat, 31 Juli 2026, Dony menegaskan keberadaan beban yang dirasakan oleh badan usaha penerima dampak tersebut. "Kalau ditanya sama saya dulu kenapa begitu, ya tentu teman-teman silahkan cari tahu. Tetapi saya hanya membetulkan bahwa memang terbebani," kata Dony.
Dony juga secara khusus menyebutkan dampak negatif yang dirasakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk akibat keterlibatan mereka dalam struktur kepemilikan saham serta tagihan proyek yang belum terselesaikan. "WIKA terbebani, mereka punya saham di KCIC. Ada tagihan dia yang juga belum di-seattle. Ya tentu orang-orang juga tahu. Ini menjadi beban buat mereka," ia menambahkan.
Guna mengatasi pembengkakan utang dan menyehatkan kembali keuangan BUMN yang terdampak, pemerintah melalui Danantara tengah merumuskan skema penyelesaian khusus, termasuk opsi pengambilalihan aset prasarana KCIC oleh pemerintah yang berpotensi membebani APBN. Dony meminta publik dan pihak terkait untuk bersabar mengingat penanganan kasus ini memerlukan waktu dan energi yang cukup besar.
Dalam kesempatan tersebut, Dony menjelaskan bahwa pihaknya sedang mengurai berbagai persoalan keuangan peninggalan masa lalu secara berurutan. "Jadi teman-teman perlu tahu ya, mesti dilihat perspektif yang lebih luas mengenai BUMN. Kami yang baru ini sebenarnya menyelesaikan problem-problem yang ada," kata Dony. "Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya. Nah tentu kita energinya juga terbatas. Satu-satu harus diberesin, ini belum selesai," tambahnya.
Dony merinci bahwa selain proyek kereta cepat, Danantara juga sedang merapikan persoalan keuangan BUMN lainnya seperti PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Adhi Commuter Properti Tbk. "Itu kan peninggalan yang harus dibereskan pada saat ini. Jadi sabar, satu-satu, saya juga punya keterbatasan energi, keterbatasan waktu. Satu-satu kita rapikan," kata Dony.
Terkait solusi konkret untuk melunasi dan membenahi beban utang KCIC, Dony memberi sinyal mengenai rencana take over atau pengambilalihan prasarana oleh pemerintah yang nantinya dapat dihibahkan demi memulihkan struktur keuangan konsorsium. "Insya Allah kemungkinan akan dilakukan dengan pola demikian, akan dihibahkan. Nah karena itu, maksud saya itu satu-satu. Satu-satu kita bereskan. Mohon kesabarannya," beber dia.
Pemerintah menargetkan formulasi final skema penyehatan ini dapat diputuskan dan diumumkan dalam waktu dekat. Dony optimistis proses pembenahan struktur utang ini dapat diselesaikan dalam hitungan minggu. "Tetapi pada akhirnya harus kita selesaikan. Enggak mungkin kita diamkan. Jadi saya hanya berupaya menyelesaikan satu-satu. Bagaimana kemudian ini semuanya menjadi proper dan benar," tutur dia.
Dony mengatakan, dengan optimisme bahwa keputusan resmi akan segera rampung. "Tinggal, mudah-mudahan dalam beberapa minggu ini akan segera beres. Sabar, kita selesaikan satu-satu," katanya.
MAR