JAKARTA, AFU.ID – Rumah besar dengan halaman luas tidak lagi selalu menjadi gambaran hunian ideal bagi generasi muda. Bagi sebagian Gen Z, lokasi yang dekat dengan transportasi umum, tempat kerja, fasilitas olahraga, hingga ruang berkumpul kini lebih penting daripada luas bangunan.
Arsitek senior Dody Tjahjadi melihat perubahan itu sebagai bagian dari pergeseran cara hidup masyarakat perkotaan. Rumah tidak hanya dipakai untuk beristirahat, tetapi juga menjadi ruang kerja, membuat konten, hingga menjalankan aktivitas digital.
“Kalau dulu rumah itu tempat tidur, makan bersama keluarga, dan beristirahat. Sekarang rumah juga menjadi tempat bekerja, membuat konten, dan menjalankan banyak aktivitas lain,” kata Dody.
Perubahan kebutuhan itu membuat hunian kompak, apartemen, kawasan mixed-use, hingga transit oriented development atau TOD semakin relevan bagi generasi muda. Kedekatan dengan stasiun, halte, pusat belanja, dan perkantoran dianggap dapat memangkas waktu perjalanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Transportasi daring dan jaringan angkutan umum juga mengubah cara sebagian anak muda memandang kepemilikan mobil. Tinggal di lokasi yang terhubung dengan banyak fasilitas dinilai lebih praktis dibanding memiliki rumah besar di kawasan yang jauh dari pusat kegiatan.
Pergeseran itu turut memengaruhi desain ruang hunian. Pencahayaan alami, dinding sederhana untuk latar pembuatan konten, ruang kerja kecil, serta tata letak yang fleksibel kini menjadi pertimbangan baru saat memilih tempat tinggal.
Batas antara ruang pribadi, ruang kerja, dan ruang sosial pun semakin kabur. Rumah harus mampu menampung kebutuhan penghuni yang bekerja dari rumah, menjalankan usaha digital, atau membangun karier sebagai kreator konten.
Tren co-living juga mulai menarik perhatian di sejumlah kota besar. Konsep ini menawarkan kamar pribadi dengan fasilitas bersama, seperti dapur, ruang tamu, dan area komunal, bagi penghuni yang ingin tetap memiliki ruang personal tanpa kehilangan interaksi sosial.
Menurut Dody, perubahan preferensi hunian tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan kota yang semakin padat. Kemacetan, harga tanah yang mahal, keterbatasan ruang publik, dan tingginya mobilitas membuat kawasan hunian vertikal serta terpadu semakin dibutuhkan.
Namun, perkembangan hunian modern juga menghadapi tantangan. Konsep bangunan ramah lingkungan, penghematan energi, pengelolaan air, dan ruang hijau membutuhkan biaya awal yang tidak sedikit, sementara pasar properti Indonesia masih sensitif terhadap harga.
Dody menilai kualitas hunian tidak semata ditentukan oleh kemewahan atau besarnya bangunan. Kesesuaian dengan lokasi, kebutuhan penghuni, kualitas pelaksanaan, serta keberanian menghadirkan gagasan baru justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Bagi generasi muda, hunian ideal bukan lagi sekadar rumah paling luas. Rumah yang mampu mendukung mobilitas, pekerjaan, aktivitas digital, dan kehidupan sosial kini menjadi ukuran baru dalam memilih tempat tinggal. (RHU)