JAKARTA, AFU.ID - Per hari ini, kabar-kabar yang beredar di media memang masih tak mengenakkan. Kondisi ekonomi masih lampu merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) misalnya, per hari ini, Senin (18/5/2026) amblas ke bawah angka 6.500, yang artinya mayoritas harga saham di Bursa Efek Indonesia sedang mengalami penurunan drastis. Hal ini menunjukkan adanya tekanan jual yang masif, biasanya dipicu oleh sentimen negatif seperti keluarnya dana asing (capital outflow) dan pelemahan nilai tukar Rupiah.
Kemudian nilai tukar rupiah terhadap dolar juga makin nyungsep. Per hari ini, merujuk data Refinitiv, rupiah pada pukul 10.20 WIB melemah 1,15% ke level Rp17.660 per dolar AS. Tekanan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi ini, dimana rupiah dibuka melemah 0,97% di angka Rp17.630 pee dolar AS. DPR pun berencana menggelar raker dengan Gubernur BI Perry Warjiyo membahas masalah tersebut.
Masih belum cukup? Oke, harga emas Antam, per hari Senin ini juga turun tipis Rp 5.000 per gram. Penurunan tersebut membuat harga emas kini dibanderol Rp 2.764.000 per gram. Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback emas juga ikut turun. Harga buyback hari ini dibanderol Rp Rp 2.569.000 per gram, selisih Rp 7.000 lebih rendah dibandingkan harga perdagangan kemarin.
Apa benang merah dari rangkaian berita itu? Intinya sih ekonomi Indonesia jelas tidak sedang baik-baik saja. Dan survei yang dilakukan Deloitte--salah satu dari 4 lembaga akuntan terbesar dunia--mengungkapkan, kondisi ekonomi ini memberi pengaruh besar pada perilaku Gen Z alias generasi yang lahir 1997-2012 di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026 menunjukkan, biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut bagi kedua generasi tersebut. Kekhawatiran soal biaya hidup bahkan melampaui isu pengangguran, keamanan, politik, hingga lingkungan. Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai perhatian utama mereka saat ini.
Survei tersebut melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara. Gen Z menjadi yang paling terdampak, karena generasi ini merupakan generasi termuda yang masuk ke pasar kerja global. Dalam konteks perkembangan teknologi, ketidakpastian ekonomi, dan perubahan sosial, Generasi Z menghadapi tantangan unik yang dapat mempengaruhi pandangan mereka terhadap kehidupan.
Dalam konteks kondisi ekonomi yang terus tidak stabil dalam satu dekade belakangan, membuat kekhawatiran Gen Z soal biaya hidup bahkan melampaui isu pengangguran, keamanan, politik, hingga lingkungan. Sebanyak 38 persen Gen Z menempatkan biaya hidup sebagai perhatian utama mereka saat ini.
Chief People & Purpose Officer Global Deloitte, Elizabeth Faber mengungkapkan biaya hidup yang kian tinggi menjadi kekhawatiran generasi tersebut dalam lima tahun terakhir.
"Lebih dari setengah Gen Z (55 persen) mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup, seperti pernikahan, memulai keluarga atau bisnis, atau melanjutkan pendidikan, karena kondisi keuangan mereka," ujar Elizabeth dikutip dari laporan Deloitte.
Hal tersebut membawa pengaruh signifikan bagi Gen Z dalam memandang masa depan. Status-status sosial lama seperti menikah, punya rumah, melanjutkan pendidikan yang kerap dinilai sebagai pencapaian wajib di usia produktif, mengalami pergeseran. Gen Z cenderung menilai target-target tersebut sebagai hal yang terlalu jauh untuk dijangkau.
Kondisi ekonomi terus-menerus dilanda ketidakpastian, harga rumah, kendaraan, biaya hidup yang terus melambung, mengubah Gen-Z menjadi generasi "maybe later" alias nanti dulu. Mereka memilih pendekatan pragmatis baik dalam rencana pencapaian hidup, karir dan rumah tangga. Gen Z memilih menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, menolak burn-out, agar bisa selamat dari badai ekonomi.
Deloitte mengungkapkan, "Generasi Maybe Later" ini tetaplah kelompok yang ambisius dan aktif bekerja. Namun kondisi sosial-ekonomi global, membuat mereka memilih menunda banyak keputusan besar dalam hidup karena kondisi finansial yang belum memungkinkan. "Lebih dari separuh responden mengaku menunda keputusan penting seperti menikah, memiliki anak, membangun bisnis, hingga melanjutkan pendidikan," demikian dikutip dari laporan tersebut.
Survei tersebut mengungkapkan, sebanyak 55 persen Gen Z mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup akibat kondisi keuangan mereka. “Biaya hidup adalah kekhawatiran terbesar saya karena harga-harga terus naik sementara gaji tidak, menyebabkan kerusakan ekonomi, dan hilangnya kemampuan untuk membeli apa yang kita inginkan,” kata Khalil, salah satu responden milenial dalam survei tersebut.
Soal memiliki rumah misalnya, sejumlah 69 persen Gen Z mengatakan ketersediaan dan harga hunian berdampak langsung pada pilihan kerja mereka. Kemudian 51 persen Gen Z lainnya menegaskan mereka merasa tidak mampu membeli rumah. "Gagasan untuk bisa membeli rumah rasanya tidak mungkin dengan suku bunga dan hal-hal semacam itu. Saat ini kami akan menghabiskan jauh lebih banyak uang untuk rumah yang lebih kecil," kata responden lainnya Rukaya, meski penghasilan diri dan suaminya masing-masing mecapai enam digit.
Keputusan menunda membeli rumah, menurut para Gen-Z didasari atas ketimpangan penghasilan dan biaya hidup. Mereka umumnya mengaku mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tidak sesuai dengan kebutuhan biaya hidup. Alhasil mereka kesulitan menyisihkan uang untuk menabung, karena penghasilan habis untuk membeli kebutuhan dasar seperti sewa rumah dan bahan makanan.
Survei Deloitte juga menunjukkan adanya korelasi antara ketimpangan pendapatan dan biaya hidup. Sejumlah 47 persen Gen Z kini hidup dengan mode dari gaji ke gaji alias paycheck to paycheck. Itupun 34 persen di antaranya masih mengaku kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan hidup bulanan mereka.
Meski berada dalam tekanan finansial, namun para Gen-Z tetap memiliki optimisme terhadap kondisi keuangan pribadi mereka. Sebanyak 53 persen Gen Z memperkirakan kondisi finansial mereka akan membaik dalam 12 bulan ke depan. Survei juga membuktikan hal itu, dalam konteks paycheck to paycheck living, tahun ini memang ada sedikit perbaikan dibandingkan suervei tahun lalu dimana terdapat 52 persen Gen Z yang hidup dengan pola tersebut.
Kondisi ekonomi juga membuat Gen-Z mengalami perubahan pola perilaku terkait pilihan menjalani pekerjaan dan karir. Jika generasi terdahulu (Gen X) berambisi meraih peningkatan karier yang cepat, Gen Z justru lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil ketimbang ambisi promosi cepat atau jabatan tinggi. Sebanyak 44 persen Gen Z mengatakan mereka lebih memilih steady progress dalam karier.
Hanya sejumlah 25 persen Gen Z yang mengejar pertumbuhan cepat berupa promosi, kenaikan jabatan, atau lonjakan gaji. "Perubahan ini berkaitan erat dengan keinginan generasi muda untuk menjaga keseimbangan hidup dan menghindari burnout," jelas Deloitte.
Hal itu tampak dari jawaban mereka atas pertanyaan terkait alasan enggan mengejar posisi kepemimpinan. Jawaban terbanyak adalah mereka menghidari stres dan burnout akibat tanggung jawab yang terlalu besar. Mereka juga khawatir tekanan tanggung jawab itu bakal mempengaruhi work-life balance.
Nita, salah satu responden yang dikutip dalam survei tersebut mengungkapkan, dalam hiddup, dia hanya ingin bisa melakukan pekerjaan dengan baik, pulang dan menjalani hidup dengan bersantai. Saya tidak selalu membutuhkan semua promosi agar pekerjaan saya membuat saya merasa puas,” ujar Nita.
Terkait karier, 20 persen Gen-Z bahkan rela mengambil rotasi lateral atau turun ke posisi yang lebih junior demi mendapat pengalaman jangka panjang yang sesuai. Hanya 6 persen dari mereka yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka saat ini.
Deloitte memaparkan, indikator kemajuan karier bagi generasi muda saat ini telah didefinisikan ulang secara mendasar. Pencapaian profesional tidak lagi semata-mata diukur dari tingkat jabatan, melainkan dari keberlanjutan karier tersebut tanpa mengorbankan ruang personal.
Untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi, Gen Z juga aktif meningkatkan kemampuan diri agar tetap relevan di pasar kerja, ketimbang mengejar posisi lebih tinggi. Keterampilan baru yang dipelajari meliputi kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga literasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Salah satu responden Ella, mengatakan, dirinya tidak harus terus mengejar posisi puncak perusahaan untuk merasa berkembang. “Saya hanya ingin terus belajar dan berkembang, jadi saya tidak harus selalu meniti karier hingga menjadi CEO atau semacamnya, tetapi saya ingin mempelajari keterampilan baru dan menambah kemampuan saya,” ujarnya.
Mayoritas generasi muda memang mengaitkan jabatan manajerial dengan tingkat stres yang tinggi. Survei Deloitte memperlihatkan beban emosional dan burnout menjadi pemicu utama keengganan ini, seperti dinyatakan oleh 50 persen Gen Z. Beban tanggung jawab yang terlalu masif pada posisi jabatan tinggi juga menjadi hambatan bagi 50 persen responden Gen Z untuk berambisi meraihnya. Work-life balance menjadi alasan bagi 41 persen Gen Z untuk tidak terlalu mengincar promosi jabatan.
Kendati demikian, antusiasme jangka panjang terhadap posisi strategis sebenarnya masih ada dalam rencana masa depan mereka. Sebanyak 76 persen Gen Z mengaku tetap berniat mengincar posisi eksekutif senior suatu saat nanti. Selain itu, 80 persen Gen Z masih tertarik mengemban tanggung jawab sebagai supervisor atau manajer toko. Hanya saja ada syarat mutlak yang harus dipenuhi yaitu posisi tinggi tersebut diimbangi dengan kultur kerja yang fleksibel dan mendukung kesehatan fisik maupun mental.
Global Chief Strategy Officer Deloitte Global, Mike Canning, mengatakan, generasi muda ini memang memiliki kalkulasi matang mengenai kualitas hidup sebelum menerima tanggung jawab besar. "Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas," jelas Canning.
Global Future of Work Leader Deloitte, Nic Scoble-Williams, menilai rendahnya minat memimpin bukan berarti hilangnya motivasi kerja. Menurutnya, pekerja muda kini memahami bahwa kontribusi dan pengakuan profesional tidak melulu harus dicapai lewat jalur struktural manajer.
"Menarik sekali bahwa hanya sedikit yang memprioritaskan kepemimpinan, tetapi saya tidak berpikir itu berarti ‘tidak ada yang ingin memimpin.’ Hanya saja, itu bukan satu-satunya hal yang penting bagi mereka," ujar dia.
MAR