JAKARTA - AFU.ID, Badai ekonomi menerjang Indonesia terus-menerus belakangan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar anjlok hingga Rp17.700, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok lebih 4 persen, sementara APBN harus menanggung beban selisih harga BBM sekaligus berbagai program berjalan.
Kondisi di atas terjadi bersamaan. Ini memicu kegelisahan publik tentang masa depan ekonomi nasional. Muncul pertanyaan di benak masyarakat: apakah Indonesia sedang menuju resesi, seperti yang terjadi pada tahun 1998?
Ketika nilai tukar rupiah melemah, masyarakat berbondong-bondong memborong dolar, sebagai safe haven, untuk menyelamatkan harta mereka, supaya tidak ikut terdevaluasi.
Bank Indonesia (BI) mengambil tindakan pencegahan untuk menjaga rupiah. Mulai Juni mendatang, bank sentral ini membatasi pembelian dolar AS per orang per bulan sebesar 25.000 dolar AS.
Dari sebelumnya, masyarakat dibatasi hingga 100.000 dolar AS. Di tengah geger ekonomi itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding masa krisis 1997-1998.
Menurutnya, pelemahan rupiah pada 2026 tidak terjadi bersamaan dengan runtuhnya fondasi ekonomi nasional seperti yang pernah dialami Indonesia hampir tiga dekade lalu.
"Kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Beda, 1997-1998 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 1997 pertengahan itu kita sudah resesi,” kata Purbaya, dikutip Rabu (20/5/2026).
Bagi dia, krisis ekonomi 98 itu merupakan kombinasi berbagai keadaan yang terjadi bersamaan. Saat itu terjadi resesi dalam waktu panjang, sementara pemerintah, membuat kebijakan ekonomi yang dinilai keliru.
Tak hanya itu, Purbaya mengatakan, juga terjadi gejolak sosial politik yang semakin memperparah situasi. Saat itu, nilai tukar rupiah yang jatuh langsung menyeret sektor perbankan dan perekonomian nasional ke jurang kehancuran.
Inflasi Jadi Indikator
Perbedaan lainnya, dapat dilihat dari tingkat inflasi. Saat itu Indonesia mengalami hiperinflasi hingga lebih dari 77 persen. Ini berimbas langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Sehingga daya beli masyarakat menurun,” katanya.
Sementara pada April 2026, inflasi Indonesia tercatat hanya 2,41 persen atau masih berada dalam rentang target pemerintah di kisaran plus minus 3 persen meskipun rupiah tengah tertekan.
Ia menilai, pertumbuhan ekonomi sekarang jauh berbeda dari 98. Saat itu, ekonomi Indonesia terpuruk hingga minus 13 persen, menyebabkan aktivitas usaha lumpuh dan angka pengangguran melonjak drastis.
Sebaliknya, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 justru masih mampu tumbuh 5,61 persen. Angka itu disebut menunjukkan konsumsi domestik dan investasi tetap bergerak positif di tengah tekanan global.
Purbaya menilai kondisi tersebut menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding era krisis moneter.
"Jadi fondasi kita memang betul-betul bagus, tidak usah khawatir," jelasnya.
Ia mengatakan pemerintah saat ini masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional meski pasar global tengah bergejolak.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan pemerintah bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi volatilitas global, bukan karena keruntuhan ekonomi domestik seperti yang terjadi pada 1998. (EER)