JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Singapura menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah volatilitas pasar keuangan domestik. Namun, keyakinan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa minat investor tidak cukup dijaga dengan optimisme diplomatik.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura Gan Kim Yong mengatakan pelaku usaha Singapura masih melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik untuk investasi jangka panjang.
“Para pengusaha Singapura tetap memiliki minat yang kuat terhadap Indonesia. Saya pikir kita bisa terus melihat investasi mengalir ke Indonesia,” kata Gan dalam konferensi pers bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa, (9/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan setelah Pertemuan Menteri Kelompok Kerja Ekonomi Bilateral Enam Singapura-Indonesia ke-16. Forum tersebut membahas kerja sama ekonomi kedua negara di sejumlah sektor strategis.
Gan mengatakan Indonesia tetap memiliki daya tarik besar karena sumber daya, tenaga kerja, dan peluang pasar yang luas.
“Dalam jangka panjang, fundamental Indonesia tetap sangat kuat, sangat menarik, sebagai tempat yang memiliki banyak sumber daya, banyak tenaga kerja, dan banyak peluang,” ujarnya.
Namun, Gan juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi Indonesia. Seperti banyak negara lain, Indonesia tetap menghadapi tekanan berkala dari dinamika ekonomi global.
Di titik itu, pernyataan Singapura bukan sekadar pujian. Ia juga menjadi sinyal bahwa investor tetap membaca risiko pasar, stabilitas kebijakan, dan kredibilitas pemerintah sebelum menanamkan modal lebih jauh.
Singapura selama ini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Realisasi investasi Singapura ke Indonesia disebut mencapai sekitar 17,4 miliar dolar AS atau setara Rp314,9 Triliun.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas langkah untuk menyederhanakan operasional bisnis dan menjaga iklim investasi. Salah satu fokus utama adalah pengembangan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai pusat digital.
Indonesia dan Singapura akan melakukan studi sektor teknologi untuk mengidentifikasi peluang baru di kawasan tersebut. Studi itu diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk pengembangan Batam, Bintan, dan Karimun.
Kerja sama Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah juga akan diperluas. Dengan tambahan lahan hingga 1.000 hektare, kawasan itu diproyeksikan menarik investasi baru, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Di sektor energi, proyek pembangkit listrik tenaga surya hasil kerja sama Sembcorp dan PT Sumber Energi Surya Nusantara telah masuk tahap konstruksi. Proyek berkapasitas 200 megawatt itu dilengkapi fasilitas penyimpanan energi baterai 80 megawatt hour dan ditargetkan selesai tahun depan.
Selain itu, proyek percontohan biogas menjadi biometanol pertama di Indonesia tengah dikembangkan di Sumatera Utara melalui kerja sama CRecTech dan Pertamina.
Kedua negara juga mulai menjalankan Program Pengembangan Petani Muda di Singapura untuk memperdalam kolaborasi teknologi pertanian.
“Secara keseluruhan, hasil pertemuan hari ini mencerminkan kemitraan yang berkembang seiring waktu,” kata Gan.
Meski begitu, kuatnya minat Singapura tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa semua persoalan investasi Indonesia selesai. Investor tetap membutuhkan kepastian aturan, kemudahan usaha, stabilitas fiskal, dan kebijakan yang tidak berubah mendadak.
Volatilitas pasar keuangan domestik menjadi peringatan bahwa kepercayaan investor bisa bergerak cepat. Modal masuk ketika peluang terlihat besar, tetapi bisa menahan diri ketika risiko kebijakan dinilai meningkat.
Karena itu, hubungan ekonomi Indonesia-Singapura tidak cukup dijaga dengan daftar proyek besar. Pemerintah Indonesia juga harus memastikan proyek tersebut berjalan dengan tata kelola yang jelas, perizinan yang konsisten, dan perlindungan investasi yang kredibel.
Bagi Indonesia, pernyataan Singapura memang menjadi sinyal positif. Namun, sinyal itu bukan blanko kosong. Minat investor asing tetap akan diuji oleh kemampuan pemerintah menjaga kepastian kebijakan di tengah tekanan pasar global. (RHU)