JAKARTA, AFU.ID — Diskusi panas dalam kanal Akbar Faizal Uncensored berubah menjadi alarm keras bagi kondisi ekonomi Indonesia. Mantan Menteri Perdagangan, Thomas Lembong, menyampaikan analisis tajam: Indonesia sedang berada dalam situasi paling rawan dalam dua dekade terakhir—bukan sekadar tekanan global, tetapi kombinasi rapuhnya fondasi domestik.
Di hadapan Akbar Faizal, Tom mengungkap bahwa kasus yang menyeret sosok “Nadim” (yang ia sebut berdampak luas) telah mengguncang sentimen investor global. Nama-nama besar seperti dana investasi Singapura hingga Timur Tengah disebut ikut terdampak secara psikologis.
“Banyak investor besar mulai khawatir. Ini bukan isu kecil, karena terjadi saat kita justru sangat membutuhkan mereka,” ujar Tom.
Ia menekankan bahwa kepercayaan adalah mata uang utama dalam investasi. Ketika muncul kasus hukum yang dinilai janggal atau tidak konsisten secara logika ekonomi, maka persepsi risiko terhadap Indonesia meningkat tajam.
Lebih jauh, Tom menggarisbawahi kondisi makroekonomi yang menurutnya tidak sedang baik-baik saja. Nilai tukar rupiah yang sudah menembus kisaran Rp17.300 per dolar AS menjadi indikator nyata tekanan eksternal dan internal yang bertemu dalam satu titik rawan.
Menurutnya, tekanan itu datang dari berbagai arah: krisis energi global akibat konflik Iran yang mengganggu pasokan migas ke Asia, lonjakan biaya impor energi, hingga arus keluar dolar yang memperlemah neraca pembayaran.
Namun yang paling ia soroti adalah masalah struktural dalam negeri. Tom menilai Indonesia saat ini dibebani warisan utang besar dari periode sebelumnya, yang ironisnya tidak sepenuhnya menghasilkan aset produktif.
Ia mencontohkan sejumlah proyek infrastruktur besar yang secara visual impresif, tetapi belum mampu memberikan dampak ekonomi signifikan sesuai proyeksi awal. Akibatnya, negara harus menanggung beban ganda: cicilan utang tinggi tanpa diimbangi penguatan penerimaan.
“Bukan hanya utangnya besar, tapi aset yang dibangun tidak cukup produktif,” tegasnya.
Lebih kritis lagi, Tom menyoroti arah kebijakan fiskal yang dinilai terlalu condong pada program populis dengan efek pengganda ekonomi rendah. Dalam pandangannya, pola belanja seperti ini justru mempersempit ruang fiskal di tengah tekanan global.
Ia juga mengkritik pendekatan pemerintah yang dinilai terlalu optimistis di ruang publik. Menurutnya, narasi “ekonomi baik-baik saja” justru berisiko jika tidak diiringi keterbukaan terhadap masalah riil.
“Pendekatan seperti itu sangat riskan. Kita harus jujur melihat tantangan,” katanya.
Dalam konteks persaingan regional, Tom menyebut Indonesia mulai tertinggal. Ia mencontohkan Malaysia yang konsisten membangun industri semikonduktor hingga menjadi pemain global, serta Thailand yang menguasai rantai pasok komponen penting seperti hard disk untuk data center dunia.
Sementara Indonesia, menurutnya, justru terlalu fokus pada proyek-proyek besar yang tidak langsung terkoneksi dengan tren ekonomi masa depan seperti kecerdasan buatan dan industri digital.
Di ujung perbincangan, pesan Tom jelas: Indonesia masih punya peluang, tetapi membutuhkan perubahan arah kebijakan yang lebih realistis, berbasis produktivitas, dan mampu memulihkan kepercayaan investor.
Jika tidak, peringatan itu bukan sekadar wacana—melainkan sinyal bahwa ekonomi nasional benar-benar sedang berdiri di tepi jurang. (*)