JAKARTA, AFU.ID — Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, sebanyak 22,93 juta penduduk masih tergolong miskin. Jumlah itu setara dengan 8,07 persen dari seluruh penduduk Indonesia.
Penduduk dikategorikan miskin apabila pengeluarannya berada di bawah Rp669.235 per orang setiap bulan. Untuk keluarga beranggotakan sekitar lima orang, batas tersebut setara dengan pengeluaran rumah tangga sekitar Rp3,91 juta per bulan. Angka ini menggambarkan jumlah minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makanan dan kebutuhan dasar lainnya.
“Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 22,93 juta orang atau turun sebanyak 0,43 juta orang dibandingkan September 2025,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud, Rabu (05/08/2026).
Penurunan sebanyak 430 ribu orang menunjukkan jumlah penduduk miskin berkurang dibandingkan enam bulan sebelumnya. Persentase kemiskinan nasional juga turun sebesar 0,18 poin dari kondisi sebelumnya. Meski demikian, hampir satu dari setiap 12 penduduk Indonesia masih hidup dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan.
Kondisi masyarakat di desa dan kota juga belum sama. Tingkat kemiskinan di wilayah perkotaan tercatat sebesar 6,34 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 10,67 persen. Artinya, risiko kemiskinan yang dihadapi penduduk desa masih lebih tinggi dibandingkan warga perkotaan.
Lebih dari separuh penduduk miskin Indonesia berada di Pulau Jawa. Jumlahnya mencapai 12,02 juta orang atau sekitar 52,42 persen dari seluruh penduduk miskin nasional. Sumatra berada di posisi berikutnya dengan sekitar lima juta penduduk miskin.
Sementara itu, Kalimantan memiliki jumlah penduduk miskin paling sedikit di antara wilayah besar Indonesia. Jumlahnya sekitar 870 ribu orang atau 3,79 persen dari total nasional. Penurunan tingkat kemiskinan terjadi di seluruh wilayah, dengan penurunan terbesar tercatat di Pulau Jawa.
Pada saat yang sama, BPS mencatat nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan Indonesia pada kuartal II mencapai Rp6.552,1 triliun. Industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan menjadi lima sektor dengan kontribusi terbesar. Kelima sektor tersebut menyumbang sekitar 63,73 persen terhadap perekonomian nasional.
Pertumbuhan ekonomi pada semester pertama tahun ini tercatat sebesar 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, angka pertumbuhan tersebut tidak otomatis berarti seluruh masyarakat mengalami peningkatan pendapatan dengan besaran yang sama. Data kemiskinan menunjukkan jutaan warga masih menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. (RHU)