JAKARTA, AFU.ID — Biaya hidup warga Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta pada April-Mei 2026 ini diwarnai oleh sebuah kondisi anomali.
Di satu sisi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat adanya penurunan inflasi tahunan secara signifikan.
Namun di sisi lain, masyarakat di ibu kota justru sedang terhantam rentetan kenaikan beban pengeluaran.
Mulai dari meroketnya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, tiket pesawat, hingga mahalnya emas perhiasan di pasaran.
Secara substansi, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat inflasi tahunan di ibu kota kini menyentuh angka 2,12%.
Angka tersebut secara tertulis mengalami penurunan drastis dari 3,37% pada periode yang sama tahun lalu akibat hilangnya efek basis rendah (low-base effect) di sektor energi.
“Akibat kembali normalnya tarif listrik pascadiskon pada Maret 2026,” ungkap Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto di Jakarta, Senin (4/5/2026) lalu.
Kendati angka secara tahunan menurun, realitas di lapangan menunjukkan DKI Jakarta mengalami inflasi bulanan sebesar 0,21%.
Lonjakan tersebut digerakkan secara paksa oleh sektor transportasi yang mencekik dompet warga.
“Dipicu naiknya harga avtur dan kembali normalnya tarif pascadiskon,” tutur Kadarmanto, terkait membengkaknya tarif angkutan udara.
Belum selesai urusan tiket, warga ibu kota yang menggunakan kendaraan pribadi juga harus menelan pil pahit.
“Kenaikan harga bensin nonsubsidi pertengahan April juga ikut mendorong inflasi,” ujar Kadarmanto, terkait tambahan beban bulanan yang mencapai 0,73%.
Sementara dari sisi komoditas barang, kenaikan harga emas perhiasan dinobatkan sebagai penyumbang beban terbesar dengan andil 0,70%, disusul oleh merangkaknya harga daging ayam ras, beras, dan minyak goreng.
Beruntung, di tengah gempuran kenaikan transportasi dan kebutuhan pokok tersebut, laju inflasi berhasil teredam oleh anjloknya harga kelompok bumbu dapur.
“Bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit memberikan kontribusi deflasi,” pungkas Kadarmanto, merinci daftar penyelamat yang menahan angka inflasi ibu kota agar tak semakin liar. (ADR/NAD)