JAKARTA, AFU.ID — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia menyoroti dua ancaman besar yang menekan perkebunan sawit rakyat. Petani menghadapi serangan penyakit ganoderma pada tanaman sekaligus anjloknya harga tandan buah segar di berbagai daerah.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung mengatakan ganoderma mulai mengancam kebun sawit rakyat di sejumlah sentra produksi. Penyakit itu menyerang akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani.
“Ganoderma merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena menyerang bagian akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani,” kata Gulat dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, (19/6/2026).
Menurut Gulat, serangan ganoderma berbeda dengan hama kumbang tanduk yang dapat terlihat secara kasat mata. Ganoderma bekerja perlahan hingga membuat tanaman layu dan mati.
Sejumlah sentra perkebunan sawit di Kalimantan Timur mulai melaporkan peningkatan serangan penyakit tersebut. Apkasindo meminta langkah antisipasi dilakukan lebih awal agar kerusakan tanaman tidak meluas.
Ketua DPW Apkasindo Kalimantan Timur Betman Siahaan mengatakan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah paling terdampak serangan ganoderma dan kumbang tanduk. Ia menyebut banyak petani belum memahami gejala awal penyakit tersebut.
“Banyak petani mengira tanaman mati karena tersambar petir, padahal penyebab sebenarnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang,” kata Betman.
Selain penyakit tanaman, petani sawit juga terpukul oleh penurunan harga TBS. Di Kalimantan Timur, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat turun hingga Rp1.200 per kilogram.
Pada harga tersebut, pendapatan petani hampir habis untuk biaya panen dan transportasi yang mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram. Keuntungan bersih petani disebut hanya tersisa sekitar Rp200 per kilogram.
“Banyak petani akhirnya memilih menunda panen karena tidak lagi ekonomis,” ujar Betman.
Apkasindo menilai salah satu penyebab tekanan harga adalah tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara. Ketika tender gagal transaksi berulang, pasar kehilangan acuan harga untuk pembentukan harga TBS.
Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS.
Apkasindo mendesak pemerintah mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan tender berjalan normal. Asosiasi juga meminta pabrik kelapa sawit yang membeli TBS di bawah harga kewajaran ditindak tegas.
Masalah sawit rakyat kini tidak hanya berada di kebun, tetapi juga di tata niaga. Penyakit ganoderma mengancam produksi jangka panjang, sementara harga TBS yang jatuh membuat petani kehilangan insentif untuk memanen.
Pemerintah perlu menangani dua sisi persoalan itu sekaligus. Pengendalian penyakit tanaman harus berjalan bersama transparansi harga, pengawasan pabrik, dan perlindungan petani swadaya agar sawit rakyat tidak terus menjadi pihak paling lemah dalam rantai industri. (RHU)
JAKARTA, AFU.ID — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia menyoroti dua ancaman besar yang menekan perkebunan sawit rakyat. Petani menghadapi serangan penyakit ganoderma pada tanaman sekaligus anjloknya harga tandan buah segar di berbagai daerah.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung mengatakan ganoderma mulai mengancam kebun sawit rakyat di sejumlah sentra produksi. Penyakit itu menyerang akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani.
“Ganoderma merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena menyerang bagian akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani,” kata Gulat dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, (19/6/2026).
Menurut Gulat, serangan ganoderma berbeda dengan hama kumbang tanduk yang dapat terlihat secara kasat mata. Ganoderma bekerja perlahan hingga membuat tanaman layu dan mati.
Sejumlah sentra perkebunan sawit di Kalimantan Timur mulai melaporkan peningkatan serangan penyakit tersebut. Apkasindo meminta langkah antisipasi dilakukan lebih awal agar kerusakan tanaman tidak meluas.
Ketua DPW Apkasindo Kalimantan Timur Betman Siahaan mengatakan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah paling terdampak serangan ganoderma dan kumbang tanduk. Ia menyebut banyak petani belum memahami gejala awal penyakit tersebut.
“Banyak petani mengira tanaman mati karena tersambar petir, padahal penyebab sebenarnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang,” kata Betman.
Selain penyakit tanaman, petani sawit juga terpukul oleh penurunan harga TBS. Di Kalimantan Timur, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat turun hingga Rp1.200 per kilogram.
Pada harga tersebut, pendapatan petani hampir habis untuk biaya panen dan transportasi yang mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram. Keuntungan bersih petani disebut hanya tersisa sekitar Rp200 per kilogram.
“Banyak petani akhirnya memilih menunda panen karena tidak lagi ekonomis,” ujar Betman.
Apkasindo menilai salah satu penyebab tekanan harga adalah tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara. Ketika tender gagal transaksi berulang, pasar kehilangan acuan harga untuk pembentukan harga TBS.
Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS.
Apkasindo mendesak pemerintah mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan tender berjalan normal. Asosiasi juga meminta pabrik kelapa sawit yang membeli TBS di bawah harga kewajaran ditindak tegas.
Masalah sawit rakyat kini tidak hanya berada di kebun, tetapi juga di tata niaga. Penyakit ganoderma mengancam produksi jangka panjang, sementara harga TBS yang jatuh membuat petani kehilangan insentif untuk memanen.
Pemerintah perlu menangani dua sisi persoalan itu sekaligus. Pengendalian penyakit tanaman harus berjalan bersama transparansi harga, pengawasan pabrik, dan perlindungan petani swadaya agar sawit rakyat tidak terus menjadi pihak paling lemah dalam rantai industri. (RHU)