JAKARTA, AFU.ID — Produsen tahu tempe di Cengkareng, Jakarta Barat, Yudi (35) mengeluhkan kenaikan harga kedelai akhir-akhir ini. Harga kedelai di pasar tradisional area Jakarta tembus hingga Rp20.000 per kilogram.
Akibat kenaikan harga itu, Yudi harus mengorek lebih dalam dompetnya agar aktivitas produksinya tidak berhenti. Meski dirinya mendapat harga berbeda dari kebanyakan pembeli di pasar, dirinya tetap harus nombok Rp1 juta rupiah per pembelian 1 ton kedelai.
"Karena kita kan belinya per ton, ya. Jadi kalau ada kenaikan di Rp1.000 itu ya nambahnya Rp1 juta per ton," kata Yudi, Senin (13/4/2026).
Sebagai produsen, Yudi mendapat harga lebih rendah dari pembeli biasa. Di level dia, harganya masih tergolong aman. Tetapi, belum lama ini harganya tembus Rp14.000 per kilogram dari Rp10.200 per kilogram.
Yudi mampu menghabiskan sebanyak 450 kilogram per hari dengan kisaran harga Rp4.284.000 yang menghasilkan kurang lebih 250 kilogram tempe dan 200 kilogram tahu. Meski terjadi kenaikan harga bahan baku, pihaknya mengaku belum menaikkan harga tahu dan tempe produksinya.
"Kalau kenaikan harga itu kami kan ada paguyuban, nah biasanya kalau mau naik ya harus serentak. Tapi sejauh ini belum ada kenaikan," katanya.
Pengecer di pasar tradisional menjadi golongan paling terdampak dari kenaikan harga itu, karena bukan hanya karena naiknya harga komoditas impor itu, tetapi juga harus berurusan dengan kenaikan harga plastik.
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengatakan harga kedelai mengalami kenaikan yang bervariasi, mulai dari Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram (kg) pada tingkat pengrajin tahu dan tempe, dari sebelumnya Rp8.000 hingga Rp8.600 per kg.
Adapun kenaikan harga pada tingkat pedagang pasar tradisional, yakni Rp15.000 hingga Rp20.000 per kg, dari harga sebelumnya yang berkisar Rp13.000 hingga Rp18.000 per kg.
Sanksi Bagi Pedagang dan Importir
Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta distributor dan importir kedelai mematuhi Harga Acuan Penjualan (HAP). Jika terjadi pelanggaran, pemerintah akan mencabut izin distributor hingga penahanan izin importir.
"Jadi kalau ada yang melebihi ketidakwajaran, kami bisa mencabut izin distributor, menahan izin importir," tegas Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa, Kamis (16/4).
Pihaknya berupaya menjaga harga kedelai sampai di tingkat pengrajin tahu dan tempe. Apabila harga kedelai telah melampaui HAP tingkat konsumen Rp12.000 per kg, maka pemerintah akan melakukan intervensi.
Ketentuan ini ditetapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan serta melindungi konsumen dan produsen tahu dan tempe. Menurutnya, harga saat ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kepada para importir kedelai untuk menjaga stabilitas harga dan tidak mengambil keuntungan secara berlebihan.
Ia meminta pelaku usaha tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat, khususnya pengrajin tahu dan tempe, agar kenaikan harga tidak menekan kelompok yang sangat bergantung pada bahan baku tersebut.
Harga Kedelai di Berbagai Wilayah
Ketut menyebutkan dalam data harga kedelai per 13 April yang diolah Bapanas berdasarkan informasi Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di DKI Jakarta paling tinggi mencapai Rp11.000 per kilogram (kg). Sedangkan terendah mencapai Rp10.500 per kg.
"Secara keseluruhan, rata-rata harga kedelai di regional Jawa berada di angka Rp10.555 per kg," jelasnya.
Selanjutnya untuk regional Sumatera terpantau fluktuasi dengan rata-rata harga Rp11.450 per kg. Lalu rata-rata di regional Sulawesi mencapai di Rp11.113 per kg. Sementara di Bali-NTB dan Kalimantan masing-masing berada di Rp10.550 per kg dan 10.908 per kg.
"Namun sebenarnya kondisi harga kedelai di pengrajin tahu tempe ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut.
Kenaikan harga minyak dunia yang mengakibatkan meningkatnya ongkos pengiriman dari Amerika Serikat ke Indonesia menjadi pemicu kenaikan harga kedelai. Harga global kedelai sendiri cenderung fluktuatif, sedikit menurun sekitar ~1,59% dalam sebulan per data Trading Economics per 14 April.
Untuk diketahui, 95 persen pengrajin tahu-tempe Indonesia menggunakan kedelai impor dengan margin keuntungan menipis. Kebutuhan (konsumsi) kedelai nasional sekitar 2,7–3 juta ton per tahun dan terus meningkat.