Penulis: Fadhlan Robbani · Reporter: Fadhlan Robbani
JAKARTA, AFU.ID - Kenaikan harga kedelai mulai menekan pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Meski kenaikannya lebih terkendali dibandingkan sebelumnya, biaya produksi tetap membengkak setelah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketua Kopti Cianjur Hugo Siswaya mengatakan pelemahan rupiah membuat harga bahan baku kedelai terus merangkak naik. Kondisi itu berdampak pada sekitar 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur.
“Kami berharap pemerintah turun tangan secepatnya guna menstabilkan harga kedelai di pasaran,” kata Hugo saat di Cianjur, Minggu (7/6/2026).
Hugo menjelaskan, sejumlah pelaku usaha berupaya menekan biaya produksi agar tetap bertahan. Namun, sebagian lainnya memilih berhenti sementara karena tidak lagi mampu membeli bahan baku.
Menurut dia, sekitar 50 pengusaha tahu di Cianjur sudah menghentikan produksi sementara. Sementara pelaku usaha yang masih bertahan memilih mengurangi ukuran tahu atau menurunkan skala produksi.
Pemilik pabrik tahu di Kecamatan Cianjur, Taufik Munandar, mengatakan harga kedelai impor saat ini mencapai Rp10.500 per kilogram. Kenaikan itu membuat ongkos produksi naik, sementara penjualan terus menurun.
Taufik mengaku sudah menghentikan produksi sejak dua bulan terakhir karena terus merugi. Padahal, sebelumnya pabriknya mampu mengolah 100 hingga 200 kilogram kedelai per hari menjadi tahu atau tempe dengan melibatkan 14 pekerja.
“Biaya operasional membengkak sedangkan pendapatan menurun,” katanya.
Taufik berharap pemerintah segera membantu menstabilkan harga kedelai agar pelaku usaha tahu dan tempe dapat kembali berproduksi. (ANT/FAD)