JAKARTA, AFU.ID — Gudang Garam menghadapi tekanan penjualan dengan memangkas berbagai biaya operasional sepanjang 2026. Di tengah langkah efisiensi tersebut, jumlah karyawan perusahaan tercatat menyusut ribuan orang dibandingkan tahun lalu. Hasilnya, meski omzet turun, laba bersih produsen rokok tersebut justru melonjak hingga 2.440 persen pada semester pertama 2026.
Laporan perusahaan mencatat jumlah karyawan Gudang Garam sebanyak 21.454 orang pada akhir Maret 2026. Angka itu berkurang 6.579 orang atau sekitar 23,5 persen dibandingkan Maret 2025 yang masih mencapai 28.033 pekerja. Pada akhir 2025 saja, jumlah karyawan perseroan masih tercatat sebanyak 21.964 orang.
Penurunan jumlah pekerja itu berjalan beriringan dengan penyusutan sejumlah komponen biaya perusahaan. Upah langsung pada semester pertama 2026 turun sekitar 18,44 persen menjadi Rp356,67 miliar, sementara biaya produksi tidak langsung menyusut hampir 10 persen menjadi Rp1,49 triliun. Gudang Garam juga berhasil memangkas beban pokok pendapatan menjadi Rp35,19 triliun dari Rp40,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi tersebut menjadi penting karena penjualan Gudang Garam masih tertekan. Pendapatan perseroan sepanjang semester I-2026 tercatat Rp41,18 triliun, turun sekitar 7,2 persen dibandingkan Rp44,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, penurunan biaya yang lebih besar membuat laba kotor perusahaan justru meningkat sekitar 58 persen menjadi Rp5,99 triliun.
Perbaikan juga terjadi pada pengeluaran operasional. Beban penjualan turun hampir 40 persen dari Rp1,83 triliun menjadi Rp1,10 triliun, sedangkan beban umum dan administrasi turun sekitar 26,8 persen menjadi Rp1,16 triliun. Beban bunga dan keuangan bahkan menyusut tajam dari sekitar Rp219,35 miliar menjadi hanya Rp4,52 miliar.
Kombinasi tersebut membuat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak menjadi sekitar Rp2,98 triliun. Pada semester pertama tahun lalu, laba bersih Gudang Garam hanya sekitar Rp117,16 miliar. Artinya, keuntungan perusahaan melesat sekitar 2.440 persen atau lebih dari 25 kali lipat dalam setahun.
Meski jumlah karyawan menyusut tajam, angka 6.579 orang tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai jumlah pekerja yang terkena PHK. Ketika isu PHK massal sempat mencuat pada 2025, Direktur sekaligus Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman menjelaskan pelepasan sebagian pekerja berlangsung melalui pensiun normal, pensiun dini sukarela, serta berakhirnya masa kontrak kerja. Pada saat itu perusahaan secara khusus membantah isu PHK massal terhadap 309 pekerja yang ramai diperbincangkan.
"Operasional Perseroan berjalan seperti biasa, dari produksi hingga distribusi," kata Heru dalam penjelasan perusahaan kala itu. Keterangan tersebut menjadi penting karena data terbaru hanya memperlihatkan penurunan jumlah tenaga kerja secara keseluruhan, tanpa merinci seluruh penyebab berkurangnya 6.579 karyawan dalam periode setahun. Informasi yang tersedia karena itu belum cukup untuk menyimpulkan seluruh penurunan tersebut terjadi akibat PHK.
Perusahaan sebelumnya juga mengakui industri rokok menghadapi tantangan dari melemahnya daya beli, ketentuan cukai hingga peredaran rokok ilegal. Gudang Garam menyatakan akan terus melakukan langkah adaptif terhadap kondisi pasar, termasuk melalui produk baru untuk mempertahankan pangsa pasar. Tekanan tersebut masih terlihat pada 2026 karena pendapatan tetap turun meskipun profitabilitas perusahaan membaik tajam.
Dengan karyawan yang berkurang, biaya yang semakin ditekan, serta laba yang melonjak di tengah penjualan yang masih melemah, strategi Gudang Garam pada 2026 menunjukkan fokus kuat pada efisiensi. Namun, penyusutan tenaga kerja ribuan orang tetap menjadi sisi lain dari pemulihan laba tersebut yang perlu dicermati. (RHU)