AFU.id

Inflasi Mei 2026 Naik Hampir 2 Kali Lipat, Dompet Rakyat Makin Tipis!

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Inflasi Mei 2026 Naik Hampir 2 Kali Lipat, Dompet Rakyat Makin Tipis!
Ilustrasi masyarakat Indonesia yang semakin tertekan akibat inflasi tahunan Mei 2026 naik hampir dua kali lipat dari Mei 2025 lalu. (Foto: Gemini AI)

Sinyal Ekonomi Pulih atau Pemerintah Kendor?

Lonjakan inflasi tahunan yang menyentuh 3,08% pada Mei 2026 melempar sebuah pertanyaan besar ke ruang publik.

Pertama, apakah tanda bahwa daya beli masyarakat sudah pulih total yang membuat permintaan barang meningkat (demand-pull inflation)?

Atau yang kedua, justru sebuah indikasi awal kurang kuatnya kendali pemerintah dalam menjinakkan biaya produksi dari hulu (cost-push inflation)?

Jika melihat struktur pendukungnya, kekhawatiran mengarah pada masalah biaya produksi.

Data BPS menunjukkan komponen harga bergejolak (volatile foods) meroket hingga 6,24% dan komponen bahan makanan secara umum melesat 5,88%.

Kondisi tersebut mengindikasikan pemicu inflasi kali ini bukan karena dompet warga yang makin tebal.

Akan tetapi, efek dari harga kebutuhan pokok di pasar—seperti beras, ikan segar, minyak goreng, dan cabai merah—yang memang semakin mahal dari sananya.

Pemerintah tampaknya kecolongan dalam menjaga kestabilan harga barang di tingkat produsen sebelum sampai ke tangan konsumen.

Analisis Dampak

Melompatnya inflasi tahunan dari 1,60% (Mei 2025) menjadi 3,08% (Mei 2026) membawa dampak nyata yang langsung mengikat keseharian masyarakat.

Terjadi penyusutan nilai uang akibat inflasi tahun kalender (y-to-d) yang telah menyentuh 1,35% hanya dalam kurun waktu lima bulan pertama sepanjang tahun 2026.

Akibatnya, nilai riil dari uang yang masyarakat pegang menyusut lebih cepat ketimbang lima bulan pertama tahun 2024 (1,16%) dan 2025 (1,19%).

Dampak yang kedua menyasar para kelas pekerja yang semakin merasakan tekanan hebat.

Kenaikan upah tahunan yang sering kali terbatas, kini langsung berhadapan dengan laju inflasi tahunan yang menembus batas 3%.

Pengeluaran bulanan rumah tangga dipastikan membengkak hanya untuk mendapatkan porsi kebutuhan yang sama dengan tahun lalu.

Data perbandingan inflasi tahunan tersebut pun harus menjadi peringatan keras bagi pengambil kebijakan.

Pemerintah Republik Indonesia tak boleh lagi memakai narasi normatif bahwa inflasi dalam kondisi aman.

Padahal, realitanya angka inflasi melonjak dua kali lipat ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Tanpa ada pembenahan serius pada rantai pasok pangan, beban hidup rakyat di sisa tahun 2026 terancam semakin berat. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi