JAKARTA, AFU.ID — Pemilik akun X @kafiradikalis mengaku menerima ancaman anonim melalui Telegram setelah mengunggah kritik keras di media sosial. Pada waktu berdekatan, akun resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, @setkabgoid, terlihat mengikuti akun tersebut. Pemilik akun kemudian menduga perhatian itu berkaitan dengan kritiknya yang berulang kali menyebut Presiden Prabowo Subianto dekat dengan kepentingan Zionisme.
“Barusan gw dapat pesan ancaman via Telegram oleh anonim terkait tweet semalam,” tulis akun @kafiradikalis, Kamis (06/08/2026). Pesan tersebut disebut menggunakan fitur sekali baca dan langsung terhapus setelah dibuka sehingga tidak dapat ditangkap layar. Identitas pengirim maupun isi lengkap ancaman itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Tidak lama setelah menerima pesan tersebut, pemilik akun mengunggah tangkapan layar akun X Sekretariat Kabinet yang menampilkan keterangan “Follows you”. Dalam tangkapan layar itu, @setkabgoid memiliki sekitar 1,2 juta pengikut dan hanya mengikuti 105 akun. Pemilik @kafiradikalis mengeklaim dirinya menjadi satu-satunya warga sipil biasa yang saat itu diikuti akun tersebut.
Pemilik akun mempertanyakan apakah ancaman anonim dan keputusan akun Setkab mengikutinya hanya sebuah kebetulan. Namun, ia tidak menyatakan memiliki bukti bahwa pesan Telegram tersebut dikirim oleh pihak Sekretariat Kabinet. Dua peristiwa itu sampai sekarang baru terhubung melalui dugaan dan urutan waktu yang disampaikan pemilik akun.
Dalam unggahan lanjutan, pemilik akun menyebut tafsir terkuatnya adalah penggunaan kata kunci “Prabowo Zionis” dalam berbagai kritik yang pernah ia sampaikan. Ia juga mengaku beberapa kali berorasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan menyebut Prabowo sebagai “penjilat Zionis”. Penjelasan tersebut merupakan interpretasi pribadi pemilik akun mengenai alasan @setkabgoid mengikutinya, bukan keterangan resmi dari pemerintah.
Akun @kafiradikalis dikenal aktif mengunggah kritik mengenai sikap pemerintah terhadap Palestina dan Israel. Berdasarkan profil yang dapat diakses, akun tersebut memiliki sekitar 98.000 pengikut dan menggambarkan dirinya sebagai aktivis pendukung perjuangan Palestina. Kritiknya terhadap Prabowo telah disampaikan berulang kali dengan bahasa yang keras dan terbuka.
Unggahan mengenai ancaman dan akun Setkab itu mendapat perhatian luas di X. Postingan tersebut tercatat dilihat lebih dari 100.000 kali dan memunculkan kekhawatiran warganet mengenai keselamatan pemilik akun. Sejumlah pengguna juga mempertanyakan alasan akun resmi lembaga yang berada dekat dengan Presiden mengikuti seorang pengkritik pemerintah.
Tangkapan layar yang diunggah memperlihatkan akun @setkabgoid menggunakan tanda verifikasi dan mencantumkan diri sebagai akun resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Namun, mengikuti sebuah akun di media sosial tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengawasan, intimidasi, maupun keterlibatan dalam pesan ancaman. Alasan akun tersebut mengikuti @kafiradikalis belum dijelaskan dalam unggahan yang beredar.
Kasus ini karena itu perlu dipisahkan menjadi dua fakta. Pertama, pemilik akun mengaku menerima ancaman dari pengguna Telegram anonim yang identitasnya belum diketahui. Kedua, akun resmi Sekretariat Kabinet terlihat mengikuti dirinya, tetapi belum ada bukti bahwa kedua peristiwa tersebut saling berkaitan.
Kejelasan dari Sekretariat Kabinet diperlukan agar keputusan mengikuti akun pengkritik pemerintah tidak berkembang menjadi spekulasi mengenai intimidasi terhadap kebebasan berpendapat. Pemilik akun juga perlu menyimpan bukti digital, identitas akun pengirim, dan informasi perangkat apabila ancaman kembali diterima. Tanpa pemeriksaan lebih lanjut, tuduhan bahwa ancaman berasal dari pemerintah tidak dapat dijadikan kesimpulan. (RHU)