JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Kota Yogyakarta terus mengembangkan kampung wisata sebagai destinasi berbasis komunitas. Pengembangan itu diarahkan untuk memperkuat daya tarik pariwisata melalui budaya lokal dan pengalaman langsung bersama masyarakat.
“Kampung wisata menjual potensi yang dimiliki masing-masing kampung,” kata Wawan dalam talkshow Jogja Celebration: Culture and Local Experience di Yogyakarta, Sabtu, (6/6/2026).
Menurut Wawan, kampung wisata mampu menawarkan pengalaman berbeda karena wisatawan tidak hanya datang melihat tempat, tetapi juga merasakan kehidupan dan kekhasan budaya masyarakat setempat.
Ia menyebut sejumlah kampung wisata di Kota Yogyakarta sudah dikenal secara nasional karena memiliki atraksi budaya yang unik dan otentik.
Yogyakarta selama ini memiliki beragam potensi budaya yang dapat dikembangkan dalam kampung wisata. Potensi itu mencakup karawitan, wayang orang, seni tradisi, hingga kegiatan budaya yang melibatkan warga.
Wawan mengatakan tren pariwisata saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada kunjungan ke destinasi. Wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan lokal.
Karena itu, Pemkot Yogyakarta mendorong inovasi wisata tematik, jelajah kawasan heritage, pengalaman menjadi bagian dari budaya lokal, dan kegiatan berbasis wisata budaya.
Menurut dia, kolaborasi diperlukan agar pariwisata Yogyakarta memiliki daya saing yang lebih kuat. Keterlibatan pelaku usaha, komunitas seni, akademisi, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor tersebut.
Wawan menyebut Kota Yogyakarta memang memiliki wilayah relatif kecil, yakni sekitar 32,5 kilometer persegi. Namun, keterbatasan wilayah itu dapat ditopang oleh kekayaan budaya, kreativitas masyarakat, serta suasana kota yang aman dan nyaman bagi wisatawan.
Pengembangan kampung wisata menjadi penting karena pariwisata Yogyakarta tidak bisa hanya bertumpu pada titik kunjungan yang sudah populer. Jika dikelola serius, kampung wisata dapat membuat manfaat ekonomi pariwisata lebih dekat ke warga.
Namun, pengembangan itu tetap perlu dijaga agar masyarakat tidak hanya menjadi pelengkap atraksi. Kampung wisata harus memberi ruang bagi warga sebagai pelaku utama, bukan sekadar latar budaya untuk kebutuhan promosi pariwisata. (RHU)