JAKARTA, AFU.ID — Seorang kakek penjual kangkung bernama Madhalim terpaksa mengikat perutnya menggunakan tali plastik untuk menahan lapar saat berjualan di Kabupaten Lebak, Banten. Dalam video yang viral di media sosial, Madhalim juga terlihat memakan kangkung mentah yang seharusnya dijual untuk mengganjal perutnya. Kondisi ekonomi membuat lansia asal Desa Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, itu masih harus mencari nafkah pada usia senja.
Video tersebut sebenarnya direkam sekitar satu bulan sebelum beredar luas di media sosial. Saat ditemui relawan, Madhalim mengaku mengikat perutnya karena tidak kuat menahan lapar ketika menjajakan kangkung di pinggir jalan. Kangkung yang dijualnya dipetik dari rawa-rawa di sekitar tempat tinggalnya.
Jika tidak berjualan kangkung, Madhalim memungut brondolan buah sawit yang tercecer di kebun untuk dijual. Penghasilan yang tidak menentu membuatnya hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga dari hari ke hari. Kondisi kesehatannya yang mulai menurun juga menyebabkan Madhalim tidak dapat rutin bekerja.
Madhalim tinggal bersama istri dan anaknya di sebuah gubuk bambu bekas tempat pengolahan kopra. Bangunan berukuran sekitar 5x5 meter itu berdiri di atas tanah milik orang lain dengan dinding mulai lapuk, penerangan terbatas, dan atap yang bocor ketika hujan. Madhalim telah menumpang di bangunan tersebut selama sekitar dua tahun tanpa memiliki kepastian tempat tinggal.
“Sudah dua tahun tinggal di sini. Saung sama tanah ini punya orang, kakek cuma numpang di sini,” kata Madhalim. Ia khawatir sewaktu-waktu harus meninggalkan bangunan tersebut apabila pemilik lahan kembali menggunakannya. Di tengah kondisi itu, Madhalim hanya berharap pemerintah membantunya memperoleh tempat tinggal yang layak.
Pemerintah Kabupaten Lebak kemudian mendatangi tempat tinggal Madhalim dan menyalurkan bantuan berupa sembako, kasur, peralatan rumah tangga, serta paket kebutuhan keluarga. Dinas Sosial Provinsi Banten juga memberikan bantuan makanan, pakaian, peralatan dapur, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya. Pemerintah menyatakan kondisi Madhalim dan istrinya akan terus dipantau untuk menentukan penanganan selanjutnya.
Madhalim tercatat masuk kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah atau desil satu. Ia telah menjadi peserta BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran, sedangkan istrinya tercatat menerima Bantuan Pangan Nontunai. Kendati telah terdaftar sebagai penerima bantuan, pemerintah mengakui kebutuhan paling mendesak keluarga tersebut saat ini adalah rumah yang layak.
Pemerintah desa tengah mengupayakan lahan bengkok yang dapat digunakan untuk membangun rumah bagi Madhalim. Usulan pembangunan juga disiapkan melalui program Rumah Sejahtera Terpadu yang melibatkan Baznas Banten. Relawan secara terpisah turut membuka penggalangan dana agar Madhalim tidak lagi menjalani masa tuanya di gubuk pinjaman. (RHU)