JAKARTA, AFU.ID – Harga minyak dunia melandai, sejumlah BBM nonsubsidi Pertamina turun, tetapi Pertamax masih bertahan di Rp16.250 per liter. Ekonom Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai penahanan harga RON 92 itu diduga menjadi cara Pertamina memulihkan margin setelah sebelumnya menahan kenaikan harga saat biaya produk BBM global melonjak.
Per 1 Juli, Pertamax Turbo turun Rp1.450 menjadi Rp19.300 per liter dan Pertamina Dex juga terkoreksi tajam. Namun, Pertamax tetap di harga yang sama seperti penyesuaian pada 10 Juni lalu, ketika harganya naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter di wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor 5 persen.
Yayan mengatakan harga Pertamax pada Juni lalu sebenarnya masih berada di bawah harga yang tersirat dari formula karena harga produk BBM dunia sedang tinggi. Ketika harga minyak mulai turun, menurut dia, Pertamina tidak langsung memangkas harga Pertamax karena ruang penurunan itu dipakai untuk memulihkan margin. “Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya,” kata Yayan, Sabtu (4/7/2026).
Berdasarkan simulasi yang ia kembangkan, harga Pertamax pada Agustus bisa mengarah ke sekitar Rp13.700 per liter jika mengikuti formula dasar. Namun, dengan strategi price smoothing atau penghalusan harga, Yayan memperkirakan harga RON 92 itu tetap berada di sekitar Rp16.000 per liter agar perubahan harga tidak terlalu tajam dari bulan ke bulan.
Ia menilai pilihan itu membuat konsumen belum langsung menikmati penurunan harga minyak dunia. Menurut perhitungannya, bila Pertamax diturunkan mengikuti formula, inflasi dalam tiga bulan dapat berkurang sekitar 0,4 poin persentase. Sebaliknya, jika harga ditahan, manfaat turunnya harga minyak lebih banyak dipakai untuk memperkuat margin Pertamina dan menjaga tekanan anggaran energi.
Pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan Kristian Widya Wicaksono mengatakan harga BBM nonsubsidi memang tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah pada satu waktu. Nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, distribusi, pajak, serta cadangan menghadapi gejolak pasar juga ikut menentukan harga jual.
Namun, ia mengingatkan pemerintah dan Pertamina perlu menjelaskan dasar penetapan harga secara terbuka bila biaya penyediaan BBM turun, tetapi harga di SPBU tetap dipertahankan. Tanpa penjelasan rinci, konsumen sulit mengetahui apakah harga Pertamax masih mencerminkan biaya ekonomi atau digunakan untuk menutup tekanan lain di sektor energi. (RHU)