JAKARTA, AFU.ID - Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk sementara waktu menangguhkan penerapan tarif tinggi terhadap produk-produk ekspor asal Kolombia. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi penopang utama bagi para pelaku usaha domestik yang tengah terpuruk akibat dampak gempa bumi dahsyat di negara tersebut.
Keinginan tersebut disampaikan langsung oleh de la Espriella melalui komunikasi via telepon dengan Presiden Trump. Pemerintah Kolombia menilai bahwa keringanan bea masuk ke pasar Amerika Serikat sangat krusial untuk menjaga kelangsungan dunia usaha di tengah masa penanganan darurat dan pemulihan pascabencana.
"Saya meminta beliau (Trump) mempertimbangkan penangguhan sementara tarif tinggi yang memberatkan produk-produk Kolombia, demi meringankan beban para pebisnis kami yang tengah menghadapi situasi sangat sulit akibat dampak gempa," kata de la Espriella melalui akun resminya di platform X, Sabtu (15/8/2026).
Dalam percakapan telepon berdurasi sepuluh menit tersebut, de la Espriella menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan ekonomi serta pengiriman tim penyelamat dari pemerintah AS. Sebaliknya, Presiden Trump menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban jiwa dan menegaskan solidaritas rakyat Amerika Serikat bagi keluarga korban bencana di Kolombia.
De la Espriella menggambarkan perbincangan tersebut berlangsung sangat hangat dan bersahabat, sekaligus menyoroti sikap positif Trump terhadap rakyat Kolombia. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pemerintahannya kini menghadapi beban berat untuk bangkit di tengah situasi ekonomi yang kompleks.
"Saya sampaikan kepada beliau bahwa kita memiliki tantangan besar di depan mata yakni membangun kembali Kolombia di tengah situasi ekonomi yang sangat sulit dan apokaliptik yang saya warisi," kata pemimpin Kolombia tersebut.
Berdasarkan data terbaru dari Unit Nasional Manajemen Risiko Bencana (UNGRD) Kolombia per Sabtu (15/8), jumlah korban tewas akibat gempa bermagnitudo 7,4 telah mencapai 294 orang, sementara 3.935 orang lainnya mengalami luka-luka. Petugas gabungan berhasil menyelamatkan 353 orang dari reruntuhan, sementara 320 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dalam pencarian tim SAR.
Bencana gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,4 (beberapa lembaga mencatat M7,5) ini mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 07.34 waktu setempat. Pusat gempa terdeteksi berada di kedalaman sekitar 96 hingga 110 kilometer di dekat wilayah San Jose del Palmar, Departemen Choco. Peristiwa tektonik ini dipicu oleh aktivitas patahan sesar (strike-slip faulting) akibat penunjaman lempeng samudra Nazca di bawah lempeng benua Amerika Selatan.
Meski tergolong gempa berkedalaman menengah, guncangan hebat berlangsung hingga sekitar dua menit dan dirasakan di 32 ibu kota departemen di Kolombia—termasuk kota-kota besar seperti Bogota, Cali, Pereira, dan Manizales—bahkan getarannya meluas hingga ke negara tetangga seperti Panama dan Ekuador.
Bencana ini tercatat sebagai gempa terkuat yang melanda Kolombia dalam satu dekade terakhir. Guncangan tersebut merusak lebih dari 81.000 unit rumah, menghancurkan belasan ribu bangunan, merubuhkan jembatan dan fasilitas publik, serta mengganggu operasional di setidaknya lima bandara utama.
Besarnya skala kerusakan infrastruktur serta hilangnya nyawa membuat Pemerintah Kolombia menetapkan status darurat nasional dan hari berkabung nasional untuk memfokuskan seluruh sumber daya pada pencarian korban serta pemulihan pascabencana. (MAR)