JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 340 imigran etnis Rohingya yang terdampar di sejumlah wilayah di Provinsi Aceh hingga kini masih ditampung di beberapa titik pengungsian. Para pengungsi tersebut tersebar di tiga lokasi penampungan yang berbeda di wilayah Aceh.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Aceh, Tato Juliadin Hidayawan, mengatakan jumlah tersebut terdiri atas 185 orang di Seuneubok Rawang, Kabupaten Aceh Timur. Selain itu, terdapat 82 orang di Mina Raya, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, serta 73 orang di Kabupaten Aceh Utara.
“Sebagai pengungsi dari luar negeri, mereka berstatus tanpa kewarganegaraan," kata Tato Juliadin Hidayawan, Senin (22/6/2026). Kondisi tersebut membuat mereka tidak dapat dipulangkan ke negara asal karena tidak diakui oleh Pemerintah Myanmar.
Ia menjelaskan, penanganan para pengungsi dilakukan melalui pendataan dan pengawasan oleh pihak Imigrasi Aceh di masing-masing lokasi. Sementara itu, unsur pengamanan di lapangan turut melibatkan TNI dan Polri.
Terkait kebutuhan dasar, pemenuhan logistik bagi para pengungsi mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri. Mekanisme tersebut melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Selain itu, penanganan juga mendapat dukungan dari organisasi internasional seperti UNHCR dan IOM dalam pemenuhan kebutuhan pengungsi di lapangan. Skema ini dijalankan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi.
Tato menambahkan, dalam ketentuan tersebut para pengungsi juga dapat difasilitasi untuk ditempatkan ke negara ketiga yang bersedia menerima mereka. Proses itu dilakukan melalui mekanisme yang dikoordinasikan oleh UNHCR.
Ia menyebutkan, gelombang kedatangan imigran etnis Rohingya ke Aceh masih terus berulang dalam beberapa tahun terakhir. Titik pendaratan tersebar di sejumlah daerah seperti Pidie, Aceh Besar, Aceh Timur, hingga Kota Sabang.
Hingga kini, pemerintah bersama lembaga terkait masih terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap para pengungsi di tiga lokasi tersebut. Situasi di lapangan juga dilaporkan masih dalam kondisi terkendali. (ANT/RAI)