AFU.id

Restorasi 72 Hektare, Program Konservasi Terumbu Karang di Bali Libatkan 11.250 Pekerja

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Program konservasi terumbu karang di Bali telah berhasil merestorasi sekitar 72 hektare dan melibatkan 11.250 pekerja, menunjukkan dampak positif bagi ekosistem laut dan ekonomi masyarakat pesisir. Dikenal sebagai Indonesia Coral Reef Garden (ICRG), program ini tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan wisata bahari dan usaha berbasis sumber daya kelautan. Dukungan dari pemerintah dan legislatif sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program ini, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.

Restorasi 72 Hektare, Program Konservasi Terumbu Karang di Bali Libatkan 11.250 Pekerja
Terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. (Foto: CTC Bali)

Program Konservasi Terumbu Karang Perkuat Ekonomi Pesisir Berbasis Masyarakat

Sementara itu, Panggah Susanto menyampaikan keberhasilan pengelolaan kawasan pesisir tak dapat terpisahkan dari dukungan kebijakan dan anggaran. Ia memandang, keberlanjutan konservasi membutuhkan komitmen lintas sektor agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat. Pendekatan itu juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya laut.

“Konservasi, pemeliharaan ekosistem laut, dan dukungan anggaran harus menjadi prioritas. Hal ini agar potensi pesisir benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” tutur Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.

Putu Sumardiana selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali menjelaskan, pengelolaan laut di wilayahnya telah sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Yang mana, pendekatan itu menempatkan laut sebagai sumber kehidupan, budaya, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Pengembangan produk unggulan seperti garam khas Pulau Dewata pun memperkuat daya saing ekonomi daerah tanpa mengabaikan aspek kelestarian.

Perwakilan Koperasi Yasa Segara berharap kolaborasi KKP dan DPR RI semakin memperkuat kapasitas kelembagaan masyarakat pesisir. Dukungan terhadap sarana, pelatihan, hingga akses pembiayaan menjadi faktor penting bagi pengembangan usaha nelayan dan wisata bahari. Jika kolaborasi tersebut berjalan konsisten, program konservasi terumbu karang berpotensi menjadi model pembangunan kelautan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi