JAKARTA, AFU.ID — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies baru terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan.
Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, Muhammad Rifqi Hariri, dan Siti Susiarti merupakan peneliti BRIN yang berhasil menemukan spesies yang dinamakan Solanum kalimantanense tersebut.
Penemuan Solanum kalimantanense melalui kegiatan eksplorasi lapangan di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) sejak 2022 hingga 2024.
Spesies baru tersebut termasuk kelompok terong berduri (Leptostemonum clade) dan memiliki kemiripan dengan Solanum lasiocarpum.
Meski begitu, Solanum kalimantanense mempunyai sejumlah karakter morfologi khas yang membedakannya.
Mulai dari ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah lebih besar dari Solanum lasiocarpum.
Selain itu, analisis DNA menggunakan penanda Internal Transcribed Spacer (ITS) menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan dengan spesies kerabat terdekatnya.
Muhammad Rifqi Hariri menyampaikan bahwa penemuan tersebut memperkaya data keanekaragaman tumbuhan Indonesia, khususnya dari Pulau Kalimantan.
“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ungkapnya dikutip AFU.ID dari website BRIN, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, Tutie Djarwaningsih menyatakan tanaman tersebut sangat terkenal di kalangan masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak.
Bahkan, masyarakat telah lama memanfaatkannya sebagai bahan pangan karena banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran.
Masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, pun memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman tersebut sebagai obat tradisional yang terkenal dengan istilah ‘wikat’ untuk pengobatan kanker.
Secara ekologis, Solanum kalimantanense tumbuh di berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian 9–1700 meter di atas permukaan laut.
Akan tetapi, berdasarkan kajian awal, spesies tersebut diduga mempunyai populasi terbatas yang berpotensi masuk kategori rentan (Vulnerable) menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Hasil penelitian keempat peneliti BRIN tersebut kian memperkuat pentingnya eksplorasi dan kajian taksonomi tumbuhan Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati nasional.
BRIN akan terus melakukan penelitian biodiversitas dalam rangka mendukung pengungkapan potensi flora Indonesia dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. (ADR)