JAKARTA, AFU.ID — Tanaman aren berpotensi menjadi salah satu sumber bioetanol nasional karena mampu menghasilkan bahan baku energi terbarukan secara berkelanjutan. Selain mudah diolah, tanaman ini juga dapat tumbuh di lahan marginal sehingga tidak bersaing dengan komoditas pangan.
Peneliti Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Saptadi, mengatakan nira aren memiliki kandungan sukrosa, glukosa, dan fruktosa yang tinggi sehingga lebih mudah diolah menjadi bioetanol dibandingkan bahan baku berbasis pati maupun biomassa kayu. Proses produksinya hanya memerlukan fermentasi dan penyulingan.
"Nilai ekonominya cukup bagus. Sifatnya juga terbarukan," kata Saptadi dalam diskusi bersama wartawan di Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/6/2026).
Selain proses produksi yang lebih sederhana, bioetanol berbasis aren juga memiliki angka oktan sekitar 108 atau lebih tinggi dibandingkan bensin beroktan tinggi. Pohon aren pun mampu menghasilkan nira hingga sekitar 20 tahun sehingga dinilai menjadi sumber energi terbarukan yang berkelanjutan.
Menurut Saptadi, tanaman aren dapat dikembangkan di lahan-lahan kurang produktif sehingga tidak mengganggu produksi pangan nasional. Keberadaan pohon aren juga memberi manfaat ekologis karena membantu menjaga tanah dan cadangan air, mengurangi erosi, serta menyediakan nektar sebagai sumber pakan lebah.
Meski memiliki prospek besar, pengembangan bioetanol berbasis aren masih menghadapi sejumlah tantangan. Standarisasi kualitas bahan baku dan proses produksi dinilai masih perlu diperkuat agar industri dapat berkembang secara lebih luas.
Di sejumlah daerah, nira aren juga masih lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman beralkohol tradisional yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat ketersediaan bahan baku apabila tidak diatur dengan baik.
"Pengembangannya harus dibagi menjadi dua klaster, yakni aren untuk pangan dan aren untuk energi. Kalau tidak dipisahkan, pengembangannya tidak akan berjalan dengan lancar," ujar Saptadi.
Dari sisi bisnis, pengembangan bioetanol aren dinilai layak dijalankan pada skala koperasi maupun industri kecil. Berdasarkan hasil penelitian, harga pokok produksi berkisar Rp8.500-Rp10.000 per liter, sedangkan harga jual diperkirakan mencapai Rp14.000-Rp16.000 per liter dengan margin kotor sekitar 35-45 persen.
Saptadi menambahkan seluruh bagian tanaman aren memiliki nilai ekonomi. Selain nira untuk bioetanol, buah aren dapat diolah menjadi kolang-kaling, ijuk dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, sedangkan limbahnya dapat diolah menjadi biopelet dan biobriket.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas areal tanaman aren menyusut dari 64.544 hektare pada 2019 menjadi 60.557 hektare pada 2023. Produksi juga turun dari 107.415 ton pada 2021 menjadi 100.273 ton pada 2023 sehingga kondisi tersebut perlu menjadi perhatian apabila aren akan dijadikan salah satu sumber bioetanol nasional.
Sebagai upaya mendorong pengembangan bioenergi, Kementerian Kehutanan telah meresmikan proyek percontohan Bioethanol Aren di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, pada Desember 2025. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 300 liter bioetanol per hari dan diperkirakan mampu menjadi model pengembangan energi hijau berbasis aren di Indonesia. (ANT/RAI)